EconomicReview – Organisasi Perempuan Pemimpin Indonesia (PPI) menjajagi potensi kerjasama perdagangan dengan Turki, terutama dalam memasarkan berbagai produk UMKM hasil usaha anggota PPI ke Turki.
Kerjasama ini dijalin melalui Office of the Commercial Counsellor Turkish Embassy yang ada di Indonesia. “Pertemuan ini untuk melihat potensi upaya kita menggencarkan promosi berbagai produk UMKM dari anggota PPI seperti makanan olahan (kuliner), fesyen, pariwisata, agriculture (pertanian), kosmetik, hingga konsultan pendidikan,” ujar Hj Irlisa Rachmadiana, Pendiri dan Ketua Umum PPI. “Kerjasama ini juga diharapkan bisa mendorong produk UMKM Indonesia naik kelas.”
Pertemuan yang berlangsung hybrid (online dan offline) belum lama ini diinisiasi oleh pengurus PPI. Hadir secara offline dalam pertemuan tersebut seluruh jajaran pengurus PPI di antaranya Hj Irlisa Rachmadiana, Veve Safitri, Angelica Tengker, Khoe Ribka dan Erma Zein. Dari Office of the Commercial Counsellor Turkish Embassy antara lain Erkan Kiper, Chief Commercial Counsellor dan Burak Avci, Commercial Counsellor.
Sedangkan anggota PPI yang hadir secara online di antaranya Dewi Hanggraeni, Barokah Sri Utami, Sovana Dian, Ira Damayanti, dan Stephanie Yung. Dari pihak Turki ada Saicuk Kazan.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah agenda dipaparkan dan didiskusikan. Mulai dari peluang ekspor produk-produk UMKM, bisnis pariwisata dan ekonomi kreatif, pameran bisnis terutama yang menampilkan produk-produk UMKM, hingga persiapan kunjungan ke Turki pada Juni 2022. Hal ini berkaitan dengan acara business forum 2022: Indonesia-TurkÏye Global Leaders Award yang akan digelar pada 6 Juni 2022 di Istambul Turki.
Irlisa mengatakan, anggota PPI diberi kesempatan untuk memaparkan produk-produk unggulan yang akan diekspor ke Turki. Dari pemaparan tersebut, akan diketahui apa saja yang mesti dibenahi agar produk-produk tersebut layak dikirim ke Turki.
“Semua produk memiliki keunggulan masing-masing dan layak untuk diekspor ke Turki. Hal ini termasuk juga berkaitan dengan layanan kesehatan,” ujarnya.
Saat ini, Turki menjadi salah satu negara tujuan ekspor potensial bagi produk UMKM. Letaknya yang strategis geo-ekonomi, menjadikan pasar Turki perlu digarap secara serius sekaligus bisa dijadikan pusat bagi ekspansi ekspor produk-produk ke pasar negara-negara di kawasan Uni Eropa, Eropa Tenggara dan Eropa Timur, khususnya Rusia, serta kawasan Asia Tengah dan Timur Tengah.
Ada satu hal yang mesti jadi catatan agar produk-produk UMKM bisa masuk pasar Turki, perlu sejumlah strategi. Pelaku UMKM harus fokus kontinuitas, kualitas, kuantitas, dan harga. Khusus untuk harga menjadi hal yang cukup sensitive. Pasalnya, pelaku UMKM di Turki sangat menghindari kompetisi harga. Jika mereka berhadapan dengan kompetisi harga, maka mereka akan memproteksi produknya.
Di Turki, ajang pameran yang terkenal adalah MUSIAD Expo. Perhelatan ini merupakan salah satu pameran lintas sektor di Turki dan dikunjungi ribuan pengunjung, termasuk para pelaku usaha potensial. Adanya MUSIAD Expo ini diharapkan dapat meningkatkan ekspor produk UMKM melalui penetrasi pasar dan membangun jejaring kerja sama kemitraan dan kolaborasi dengan pengusaha Turki.
Potensi Turki lainnya adalah sektor pariwisata. Selain banyak UMKM yang terlibat, saat ini Turki juga sudah mulai kembali membuka sektor pariwisatanya. Sebagai informasi bahwa pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan di Turki. Sejak Juni 2020 Turki sudah mulai memberikan izin bagi turis untuk masuk. Hingga akhir tahun ini Turki menargetkan 15 juta kunjungan wisatawan asing.
Sementara itu, mewakili negara Turki, Erkan Kiper menegaskan bahwa negaranya sangat welcome jika para pelaku UMKM Indonesia untuk membangun kemitraan dan joint market bersama UMKM Turki. “Tujuannya agar terjalin kerja sama yang berkesinambungan dan saling menguntungkan,” ujarnya.

Erkan menegaskan bahwa perlu upaya strategis untuk meningkatkan hubungan perdagangan, budaya, dan juga investasi bilateral untuk mewujudkan potensi kedua negara. Turki merupakan negara mitra dagang strategis dan penting bagi Indonesia. “Turki merupakan negara yang familier dengan sistem imbal dagang, dan praktik itu telah diimplementasikan oleh perusahaan-perusahaan di Turki,” ujarnya
Sebagaimana diketahui, ada sejumlah produk Indonesia yang dikirim ke Turki, di antaranya minyak sawit, timah, staple fibres of viscose rayon, karet alam, benang tunggal (single yarn), bubuk kakao, kelapa kering, dan cakalang beku. Sementara itu, produk yang ditawarkan Turki antara lain tembakau, gandum, es krim, peralatan rumah tangga otomatis, botaes, keramik, minyak zaitun, trafo listrik, dan aluminium hydroxide.
Kerja sama imbal dagang diharapkan dapat menjadi kerja sama yang implementatif bagi kedua negara, dan menjadi salah satu opsi bagi pelaku usaha kedua negara di tengah kondisi perekonomian dunia dalam masa pandemi.








