Economic Review – Indonesia Finance Award 2026 berhasil digelar secara online via zoom pada Jumat, 17 Juli 2026 di Jakarta. Acara ini merupakan acara tahunan gelaran Economic Review.
IFA 2026 merupakan Apresiasi Penghargaan Finance yang diberikan kepada Perusahaan yang terbaik di Indonesia ( di antara beberapa sektor Industri ) baik dari Perusahaan Publik, Private, Swasta, BUMN, BUMD, yang telah terselenggara sejak 2018 (IFA-I-2018) hingga saat ini – IFA-IX-2026
Untuk penilaian IFA 2026 sendiri ada beberapa indikator yang dinilai oleh Dewan Juri yakni Data yang tercantum dari Annual Report 2025 , Laporan Keuangan dari Data Publik. Data dipublikasikan di Website resmi Perusahaan. Data publik lainnya, yang dapat kami akses.
IFA – IX- 2026, ini diselenggarakan oleh Economic Review, Indonesia Asia Institute, Ideku Group, Indonesia Leaders, didukung Dewan Juri yang independen dan profesional di bidang Finance dari IPMI International Business School, Perbanas Insitute, Cyber Universitiy.
1) Para Pemenang akan diberikan dalam beberapa Sektor Industri / Kelompok Publik & Private
2) Melalui Penghargaan ini, diharapkan Perusahaan terpacu meningkatkan prestasi dan peran pentingnya Finance, Value Creation di Perusahaan Pemerintah, Swasta, BUMN,BUMD di Indonesia.
3) Proses Penjurian akan dilakukan secara obyektif, fair, oleh Dewan Juri Independen yang berkompeten serta independen di bidang Finance
4) Penilaian pada IFA-IX-2026, ini berdasarkan indikator-indikator sebagai berikut:
Indikator penilaian juri perusahaan terbuka non keuangan tahun ini menekankan pada financial resilience perusahaan yang meliputi likuiditas, cash flow operation, kemampuan membayar hutang, dan kinerja saham.
Menurut Gunawan Witjaksono, PhD, SMEEE, IPU, ASEAN Eng ada beberapa yang diperlukan dalam pengelolaan keuangan arsitektur.
“Arsitektur keuangan modern dibangun di atas tiga lapisan yang saling terhubung untuk memungkinkan kecepatan, transparansi/visibilitas, dan skalabilitas, jelasnya”.
Acong Dewantoro Marsono ikut menambahkan “Mengarungi Volatilitas: ROE sebagai Kompas Utama (North Star).”
• Pemotongan biaya (cost-cutting) yang bersifat defensif sudah ketinggalan zaman.
• Kini berfokuslah pada konversi modal yang efektif, dengan menggunakan ROE (Return on Equity).
• ROE > 15% \rightarrow Target ketahanan (resilience target). Batas bawah untuk mempertahankan status layak investasi (investable status) di mata investor institusional global.








