Economic Review- Luasnya wilayah Indonesia tersimpan banyak ladang gas yang potensial digarap untuk bisa menjadi pendapatan negara. Banyak negara di dunia ramai-ramai mulai berjalan menuju energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan, termasuk Indonesia. Dalam melakukan transisi dari energi fosil menuju energi baru terbarukan (EBT), energi gas menjadi salah satu yang dibutuhkan.
Menurut Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto dalam webinar, Rabu (10/11), dari sisi eksplorasi pihaknya melihat lebih dari 50 persen penemuan sumur eksplorasi dalam satu dekade terakhir diwilayah Indonesia lebih banyak berupa gas.
“Ke depan pengembangan gas juga memang mengambil porsi terbesar, yakni mencapai 70 persen. Dengan cadangan gas yang mumpuni, ini menjadi nilai plus bagi Indonesia di tengah transisi energi dunia. Sementara dari sisi pengembangan 70 persen dari plan of development itu merupakan pengembangan lapangan gas. Jadi artinya sesuai dengan perubahan policy mengenai oil and gas sebagai energi, sebetulnya Indonesia memiliki keberuntungan karena justru the future-nya adalah gas,” papar Dwi Soetjipto.
Dikatakannya, BP outlook 2021 resource to production gas Indonesia dua kali lebih besar dibanding dengan minyak. Jadi sesungguhnya ini posisi kita cukup bagus karena posisi gas. Melihat proyeksi kebutuhan energi Indonesia ke depan, bauran gas memang diprediksi akan meningkat. Bila di 2020 mengambil porsi 21 persen dari seluruh energi, di 2030 naik menjadi 22 persen, dan di 2050 akan naik menjadi 24 persen.”Energi gas meningkat sebagai agen transisi energi,” ujarnya.
Emisi dari energi gas memang lebih minim dibandingkan dengan energi lainnya, seperti batu bara misalnya. Sementara untuk masuk ke energi baru terbarukan, dibutuhkan energi pendukung yang pasti dan beremisi rendah untuk bisa mendukung energi terbarukan.


