EconomicReview-Jakarta, 10 November 2025 – Din Syamsuddin, Chairman CDCC dan Global Fulcrum of Wasatiyyat sambut kedatangan para peserta World Peace Forum Ke-9 dari 24 negara melalui Multikultural Welcoming Dinner.Hadir dalam acara ini Chairman of Chengho Multi Culture and Education Trust, Tan Sri Lee Kim Yew dan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon.
Acara yang diadakan Minggu (9/11/2025) dimulai dengan pagelaran musik di Taman Galery Nasional yang kemudian dilanjutkan dengan acara makan malam bersama. Suasana semakin hangat karena diiringi dengan musik yang merdu.
Dalam sambutannya Prof Din Syamsuddin menyampaikan bahwa pengaruh ekstrim global, iklim dunia menuju ekstrimitas yaitu masyarakat sekuler yang menunju liberalisasi politik, ekonomi dan budaya, maka kita harus menyatukan pikiran baik itu Islam atau agama lain.
Pada kesempatan itu Prof. Din Syamsuddin memperkenalkan lie Kim yu ditengah para peserta yang belum mengenal dan melihat secara langsung Presiden Tan Sri Lee Kim Yew – Ketua Chengho Multi Culture and Education Trust, Malaysia sebagai sponsor dari organisasi yang dipimpinnya dan juga telah ia anggap sebagai sahabat dan saudara
“Forum perdamaian dunia ini sebagai agenda dwi tahunan yang dimulai dari 2006, 2008, 2010, 2012 dan yang terakhir ke-8 tahun 2022 mundur 1 tahun yang ke-9 pada 2025. Forum ini berangkat dari tema besar yakni satu kemanusiaan, satu tujuan dan satu tanggung jawab. Dan kali ini kami mengangkat tema besar “Considering Wasatiyyat Islam and Tiong Hua for Global Collaboration”. Yakni mempertimbangkan jalan Tengah Islam dan Tionghoa untuk menjadi dasar bagi kolaborasi global,” ungkapnya.
Beliau juga menjelaskan saat ini kehidupan dunia serta peradaban terjebak dalam ekstremitas yakni pengaruh ekstrim global, iklim dunia menuju ekstrimitas yaitu masyarakat sekuler yang menunjukkan liberalisasi politik, ekonomi dan budaya.
“Kehidupan dan peradaban dunia saat ini terjebak pada ekstremitas yaitu liberalisme kemudian terjadilah libelarisasi ekonomi, liberalisasi politik, dan liberalisasi budaya inilah yang membuat kerusakan dunia saat ini keluarnya adalah jalan tengah agama-agama Islam Wasatiyyat dan agama-agama lain mengajukan solusi inilah yang ingin kita perbincangkan dan kemudian kita harus dapatkan solusi,” jelasnya.


