EconomicReview – Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Umum PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Rosma Handayani sukses meraih penghargaan bergensi di bidang Human Capital.
Berkat komitmennya dalam meningkatkan kompetensi SDM KAI sehingga mampu naik kelas, Rosma diganjar penghargaan Best of Distinguished Leader 2025 dalam acara Indonesia Human Capital Awards (IHCA) XI – 2025. Acara yang diadakan oleh Economic Review bekerjsama dengan NBO dan Thomas Indonesia tersebut mengusung tema “Driving Productivity and Growth: HR Innovation for Sustainable Nation”.
Tercatat, sepanjang tahun 2024, PT KAI berhasil melakukan sertifikasi sebanyak 6.611 pegawai sepanjang tahun 2024. Angka ini mencapai 199% dari target awal yang ditetapkan, yaitu 3.320 pegawai. Sertifikasi ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan dan profesionalisme sumber daya manusia (SDM) di sektor perkeretaapian,
Sertifikasi ini diwajibkan bagi profesi strategis, antara lain masinis, asisten masinis, pengatur perjalanan kereta api (PPKA), pengendali kereta api (PPKP), petugas pemeriksa dan perawatan sarana kereta api, serta penjaga jalan lintasan (PJL).
Jejak profesionalisme Rosma di industri perkeretapian dimulai sejak ditunjuk Menteri BUMN, Erick Thohir untuk menjadi Direktur SDM dan Umum KAI pada Maret 2024. Rosma memilih terjun ke lapangan untuk menggali berbagai informasi langsung dari para karyawan di divisi, stasiun, hingga depo.
Dari pengalaman tersebut, banyak hal yang menjadi temuannya. Dan hal ini mengusik Rosma yang kemudian memikirkan kesejahteraan dan jenjang karier masinis, karena sebagian besar dari para masinis yang diterima di KAI pensiun dengan posisi yang sama. Rosma pun berpikir untuk menyusun atau membuat road map jenjang karier di KAI secara terstruktur, untuk menjamin kepastian pengembangan SDM dari internal perusahaan BUMN tersebut.
Setidaknya, saat ini, ada 3 terobosan yang tengah dilakukan Rosma untuk membuat SDM KAI naik kelas dan kompeten, hingga sejajar dengan BUMN yang dianggap bergengsi, seperti Bank BUMN.
Terobosan pertama adalah menyusun Road Map Jenjang Karier di KAI. Berangkat dari pengalamannya berkarier di Bank BUMN, yakni PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), Rosma ingin ada jenjang karier yang jelas untuk semua karyawan yang memiliki kompetensi.
Terobosan kedua adalah mengubah mindset atau pemikiran internal KAI terkait perekrutan karyawan. Rosma ingin SDM KAI harus lebih banyak bergelar sarjana daripada lulusan SMA atau sederajad.
Hal ini, bukan hanya untuk prestise, tetapi untuk membuat KAI tak hanya diisi oleh SDM yang mengandalkan hard skill, tetapi juga memiliki soft skill yang mampu berinovasi dan menyusun strategi untuk masa depan karier pribadi dan juga kemajuan perusahaan.
Untuk terobosan ketiga yang ingin dilakukan Rosma adalah menantang SDM KAI untuk keluar dari zona nyaman, dan mengubah jenjang karier mereka. Ia ingin karyawan KAI saat ini tak hanya memiliki spesialisasi untuk hard skill, tetapi juga memiliki soft skill yang bisa membuat mereka tertantang mengembangkan diri dan masuk ke jenjang karier apapun.








