EconomicReview – Untuk memperingati Hari Stroke Sedunia, OMRON Healthcare Indonesia mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap pentingnya deteksi dini dan pengelolaan faktor risiko stroke. Caranya, melakukan pemeriksaan terjadinya Atrial Fibrillation (AFib), yakni dengan setiap pengukuran tekanan darah—salah satu penyebab utama stroke yang sering kali tidak menunjukkan gejala
Sebagaimana diketahui, stroke merupakan penyebab kematian tertinggi kedua dan penyebab ketiga tertinggi untuk gabungan kematian dan disabilitas di dunia. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat prevalensi stroke mencapai 8,3 per 1.000 penduduk, berkontribusi sebesar 11,2% terhadap total kecacatan dan 18,5% terhadap total kematian.
Sedangkan studi Interstroke (2016) di The Lancet menunjukkan bahwa sekitar 90% kasus stroke sebenarnya dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung, pola makan tidak sehat, stres, dan kurang aktivitas fisik.
Karena itu, OMRON menegaskan bahwa kesehatan jantung dan otak harus dijaga sejak dini, bukan hanya ketika gejala muncul.
“Melalui inovasi berbasis teknologi dan edukasi berkelanjutan, kami berkomitmen membantu masyarakat memantau tekanan darah dan mendeteksi potensi gangguan irama jantung seperti AFib dengan lebih mudah dan akurat. Harapan kami sederhana, agar semakin banyak keluarga di Indonesia dapat terhindar dari risiko stroke,” ujar Tomoaki Watanabe, Director OMRON Healthcare Indonesia.
Teknologi AFib untuk Deteksi Stroke Sejak Dini
Inovasi kesehatan ini diimplementasikan melalui alat tensimeter digital terbaru HEM-7383T1 yang dilengkapi teknologi IntelliSense™ AFib. Teknologi canggih ini akan menganalisis pola gelombang tekanan nadi dengan akurasi tinggi untuk mendeteksi kemungkinan AFib sejak dini hanya dengan satu klik. Ditenagai oleh kecerdasan buatan dan basis data ribuan rekaman tekanan darah serta detak jantung, perangkat ini membantu pengguna mengenali potensi risiko stroke sebelum gejala muncul.
HEM-7383T1 juga dilengkapi dengan manset IntelliWrap™ yang memastikan hasil pengukuran akurat dari segala posisi lengan, memori untuk dua pengguna, layar besar yang mudah dibaca, serta konektivitas Bluetooth® ke aplikasi OMRON connect untuk pelacakan data tekanan darah secara digital. Dengan fitur-fitur ini, pengguna dapat memantau tekanan darah dan kondisi jantung secara konsisten, baik untuk kebutuhan pribadi maupun pemantauan bersama tenaga medis.
Zicky Yombana Babeheer, neurolog dari RS Brawijaya Saharjo & Mayapada Kuningan, mengatakan bahwa Atrial Fibrilasi adalah salah satu gangguan jantung yang sering tidak disadari karena gejalanya bisa ringan atau bahkan tidak terasa sama sekali.
“Kondisi ini dapat meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat. Dengan melakukan pemantauan tekanan darah secara rutin di rumah, masyarakat dapat mendeteksi perubahan tekanan atau irama jantung lebih awal, sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum terjadi komplikasi serius,” ujarnya.
Sejumlah penelitian global menunjukkan keterkaitan erat antara hipertensi dan AFib dalam meningkatkan risiko stroke. Studi Verdecchia et al. (2018) dalam Circulation Research menegaskan bahwa hipertensi merupakan faktor risiko kuat untuk terjadinya AFib. Pengendalian tekanan darah secara intensif — terutama di bawah 120 mmHg — dapat mengurangi risiko munculnya AFib secara signifikan. Sementara itu, studi Framingham oleh Wolf et al. (1991) membuktikan bahwa AFib merupakan faktor risiko independen terhadap stroke, bahkan pada pasien tanpa penyakit jantung rematik.
Melalui inovasi dan inisiatif berkelanjutan, OMRON Healthcare Indonesia terus mendukung masyarakat Indonesia untuk hidup lebih sehat dan aktif, sejalan dengan semangat Hari Stroke Sedunia 2025, yang menekankan pentingnya pencegahan dan deteksi dini dalam menurunkan angka kejadian stroke di Indonesia.








