EconomicReview – Jalan-jalan ke Palembang belum afdol jika kamu belum makan atau membawa pulang buah tangan berupa pempek lengkap dengan kuah yang disebut cuko dan merupakan makanan Khas Kota Bumi Sriwijaya ini. Kuliner dengan menu seperti kapal selam dan lenjer ini bahkan disebut telah eksis sejak lebih dari empat abad.
Pengolahan pempek bermula pada abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II menjadi penguasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Ketika itu namanya kelesan.
Kemudian pemasarannya menjadi pempek berawal dari seorang apek (panggilan orang tua dalam bahasa Tionghoa), yang menjualnya dengan berjalan kaki keliling kota di zaman penjajahan Belanda.
Wisatawan yang hendak membeli pempek sebagai oleh-oleh saat wisata ke Palembang perlu mengetahui cara pengemasannya, sehingga buah tangan tidak basi setibanya di tujuan.
Perlu diketahui kalau pempek tidak tahan lama dan hanya bertahan sekitar 24 jam. Namun, sejumlah gerai punya trik khusus agar pempek bisa bertahan hingga 72 jam.
Wisatawan bisa membeli pempek yang sudah divakum atau pempek yang ditaburi tepung dan bisa bertahan hingga dua hari.
Sebelum membelinya, wisatawan juga perlu menghitung durasi perjalanan. Sebaiknya beli pempek pada H-1 sebelum kepulangan, sehingga pempek tak terlalu lama berada di luar lemari pendingin selama dalam perjalanan.
Kemas pempek dalam tempat yang aman, antibasah dan antibau, sehingga tak repot saat dibawa dalam perjalanan kendaraan atau penerbangan.








