EconomicReview – Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi pada semester I 2022 tumbuh positif sebesar 32% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2021. Secara kumulatif realisasi investasi pada periode Januari-Juni 2022 senilai Rp584,6 triliun.
Sedangkan realisasi investasi pada kuarta II 2022 atau pada periode April – Juni juga tumbuh sebesar 7,0% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sehingga realisasi investasi pada kuartal II 2022 sebesar Rp302 triliun.
Di sisi lain, kontribusi Penanaman Modal Asing (PMA) pada kuartal II 2022 mencapai Rp 163,2 triliun atau 54,0% dari total investasi, meningkat 39,7% dibanding periode yang sama di tahun 2021. Sedangkan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp 139 triliun atau 46% dari total investasi kuartal II 2022. Angka ini meningkat 30,8% dibanding periode yang sama di tahun 2021.
Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan tingginya pertumbuhan PMA menunjukan di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu Indonesia masih dipercaya sebagai negara tujuan investasi dari negara-negara di luar Indonesia. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, pertama yaitu investor percaya kepada kepemimpinan Joko Widodo. Kedua yaitu kepercayaan investor terhadap stabilitas politik. Ketiga yaitu proses hukum semakin baik.
“Transparansi percepatan dan pelayanan pemerintah kepada dunia usaha khususnya investor perlahan-lahan semakin membaik. Sekali lagi saya mengatakan ini adalah wujud keberhasilan kita terhadap implementasi Undang Undang Cipta Kerja,” ujar Bahlil dalam konferensi pers Realisasi Investasi Kuartal II Tahun 2022 secara hibrida di Kantor Kementerian Investasi/BKPM pada Rabu (20/7/2022).
“Kami memahami bahwa situasi perekononomian global saat ini sedang tidak menentu akibat perang Rusia-Ukraina dan pengetatan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika memang akan menjadi tantangan berat bagi iklim investasi di Indonesia pada waktu mendatang,” ujarnya.
Dia menuturkan saat awal pandemi seluruh negara mengalami penurunan PMA, namun saat itu penurunan PMA di Indonesia tidak lebih dari 10%. Sejak tahun 2021 PMA tumbuh secara perlahan. “Saya surprise, saya sempat tanya ke tim, namun ini bisa diverifikasi dan dipertanggungjawabkan,” tutur Bahlil.
Persebaran realisasi investasi di luar Pulau Jawa pada kuartal II 2022 kembali lebih unggul dari Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar Rp 157,1 triliun atau 52,0% dari total investasi, meningkat 38% dari periode yang sama di tahun 2021.
Lima besar lokasi Investasi PMA Kuartal II 2022 yaitu Sulawesi Tengah (US$ 2,2 miliar), Jawa Barat (US$ 1,7 miliar), Maluku Utara (US$ 1,3 miliar), DKI Jakarta (US$ 900 juta), dan Jawa Timur (US$ 800 juta).
Bahlil mengungkapkan sejak kuartal III 2020 investasi luar Pulau Jawa tumbuh lebih tinggi dari dalam Pulau Jawa. Pemerintah bekerja tidak hanya di Jawa Sentris tetapi sudah fokus kepada Indonesia Sentris sebagai bentuk perwujudan visi Presiden Joko Widodo untuk membangun Indonesia tidak hanya satu pulau tetapi semua pulau Hal ini menunjukan pemerintah konsisten mendorong percepatan investasi luar pulau jawa sebagai bentuk penciptaan kawasan pertumbuhan ekonomi baru dalam rangka mewujudkan keadilan pertumbuhan ekonomi.
“Pertumbuhan ekonomi nasional kita 60% konsumsinya di daerah Jawa, khususnya Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Kalau investasi kita dorong di luar Pulau Jawa harapan ada keseimbangan dalam realisasi pertumbuhan ekonomi,” tandas Bahlil.
Berdasarkan sektor usaha, pada kuartal II 220 realisasi investasi terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, terutama sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya yang berkontribusi Rp 48,2 triliun atau 15,9% dari total investasi. Sektor lainnya sebagai penyumbang terbesar terdiri dari sektor pertambangan sebesar Rp 33 triliun(10,9%); sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran serta sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi sebesar Rp 26,7 triliun(8,8%); dan industri makanan sebesar Rp 22,4 triliun (7,4%).
“Data ini menunjukan bahwa investasi yang sedang berkembang adalah investasi industrialisasi di sektor hilirisasi pertambangan. Ini punya korelasi bahwa investasi yang didorong bukan di sektor jasa tetapi di sektor produktif,” kata Bahlil.
Catatan Kementerian Investasi/BKPM menunjukan lima negara terbesar dalam PMA kuartal II 2022 yaitu Singapura US$ 3,1 miliar (27,7%), Tiongkok US$ 2,3 miliar (20%), Hong Kong, RRT US$ 1,4 miliar (11,9%), Jepang US$ 900 juta (8,1%), dan Amerika Serikat US$ 800 juta (6,8%).
“Saya gak yakin ini uang Singapura, mungkin sebagian besar uang orang Indonesia dan Singapura dijadikan hub. Saya lagi formulasi bagaimana caranya agar kita bisa deteksi uang-uang WNI yang ada di sana,” kata Bahlil.
Dengan kinerja ekonomi Indonesia saat ini serta pertumbuhan realisasi investasi, Kementerian Investasi/BKPM tetap optimistis target realisasi investasi yang diarahkan Presiden Jokowi sebesar Rp 1.200 triliun pada tahun 2022 dapat dicapai dengan kerja bersama pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para investor.
Selain mengupayakan pencapaian target realisasi investasi sesuai arahan Presiden Joko Widodo, Kementerian Investasi/BKPM juga terus berupaya mendorong agar investasi yang masuk di Indonesia merupakan investasi yang berkualitas, yakni yang berkelanjutan dan bisa menggandeng usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).








