EconomicReview- Jakarta, 7 Agutus 2025 – Kementerian PPN/Bappenas terus memperkuat komitmen Indonesia dalam membangun ekonomi biru dengan meluncurkan dua dokumen strategis, yaitu Blue Food Assessment (BFA) Indonesia dan Penghitungan Indonesia Blue Economy Index (IBEI), Rabu (6/8). Dokumen BFA memetakan kondisi aktual dan strategis pangan akuatik untuk ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Sementara dokumen IBEI menjadi instrumen komprehensif untuk mengukur kemajuan pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan dan inklusif di Indonesia.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan pentingnya kedua dokumen yang berisikan data dan informasi komprehensif serta temuan terkini untuk mendorong pangan biru dan ekonomi biru dalam pembangunan berkelanjutan. “Lautan Indonesia bukan hanya masa depan bangsa, tetapi masa depan dunia. Melalui peluncuran dua dokumen strategis ini, kita membangun fondasi perencanaan yang kuat, berbasis data, dan berpihak pada keberlanjutan,” jelas Menteri Rachmat.
BFA dan IBEI menjadi fondasi penting untuk mempercepat transformasi ekonomi biru sebagai bagian integral pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Selain itu, peluncuran ini juga menandai kolaborasi erat antar pemangku kepentingan baik pemerintah, swasta, akademisi, organisasi masyarakat, maupun mitra pembangunan, serta memperkuat afirmasi guna mempercepat transformasi ekonomi biru di Indonesia.
Dokumen BFA disusun Kementerian PPN/Bappenas melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Uni Eropa, Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), Stanford University, dan Microsave Consulting. Sementara dokumen IBEI dikembangkan Kementerian PPN/Bappenas bersama Uni Eropa sebagai mitra utama yang menilai pencapaian pembangunan ekonomi biru secara berkelanjutan dan inklusif.
“Uni Eropa bangga mendukung upaya Indonesia dalam mengembangkan ekonomi biru yang berkelanjutan dan inklusif. Alat pengukuran berbasis data ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk memperkuat perancangan kebijakan berbasis bukti dengan tujuan melindungi keanekaragaman hayati laut, mendorong mata pencaharian masyarakat pesisir, dan meningkatkan ketahanan pangan dan gizi,” ujar Kuasa Usaha ad Interim Uni Eropa untuk Indonesia Stéphane Mechati.
Peluncuran BFA dan IBEI semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai negara produsen pangan biru utama di dunia. Fokusnya pada sistem produksi yang efisien, peningkatan nilai tambah, pemenuhan konsumsi gizi protein berimbang bagi masyarakat, dan tata kelola kelautan demi menjaga keberlangsungan ekosistem terpadu. “Kita ingin memastikan pembangunan kelautan dan perikanan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tapi juga menjaga ekosistem dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat pesisir. Inilah inti dari transformasi ekonomi biru menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Menteri Rachmat Pambudy.




