Economic Review
  • HOME
  • EKONOMI & BISNIS
  • FINANSIAL
  • KEBIJAKAN
  • GAYA HIDUP
  • KORPORASI
  • OPINI
  • BERITA TERKINI
  • SOSIAL & BUDAYA
  • OTOMOTIF
  • EVENT
No Result
View All Result

Subscribe Newsletter

Economic Review
  • HOME
  • EKONOMI & BISNIS
  • FINANSIAL
  • KEBIJAKAN
  • GAYA HIDUP
  • KORPORASI
  • OPINI
  • BERITA TERKINI
  • SOSIAL & BUDAYA
  • OTOMOTIF
  • EVENT
No Result
View All Result
Economic Review
No Result
View All Result

Kemenparekraf Dukung Pameran Seni Rupa “Biennale Jogja XVI Equator #6 2021”

by Yusniar
October 8, 2021
in BERITA TERKINI, GAYA HIDUP, SOSIAL & BUDAYA
134 1
0
Kemenparekraf Dukung Pameran Seni Rupa “Biennale Jogja XVI Equator #6 2021”
Share on FacebookShare on Twitter

EconomicReview – Untuk meningkatkan semangat berkreasi para pelaku ekonomi kreatif khususnya di bidang seni rupa di tengah pandemi COVID-19, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mendukung gelaran pameran “Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 Indonesia with Oceania” yang dilangsungkan pada 6 Oktober – 14 November  2021 secara hybrid.

Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 merupakan bagian keenam dari seri Ekuator yang sudah dimulai sejak 2011 oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY).

Tema yang diangkat pada tahun ini adalah ‘Roots \<> Routes’, yang akan memperlihatkan hubungan nusantara Indonesia dengan negara- negara di Oseania sebagai rekanan untuk menafsir persoalan yang sama melalui karya seni dan budaya kontemporer lokal.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, dalam keterangannya, Kamis (7/10/2021) menjelaskan bahwa Biennale Jogja ini bertujuan untuk memberikan berkontribusi dalam wacana seni rupa dunia. Caranya dengan menampilkan sejarah dan budaya Indonesia serta negara di ekuator, yang menunjukkan Indonesia aktif berperan dalam perkembangan dinamis budaya global.

“Pameran ini merupakan langkah yang baik untuk menjalin kerja sama dengan berbagai negara khatulistiwa. Kemenparekraf sendiri akan mendukung setiap pelaksanaaan event yang memberikan ruang bagi perkembangan seni dan budaya, karena dapat memperkaya daya tarik wisata dan menggerakkan perekonomian daerah,” jelas Menparekraf Sandiaga.

Ia pun berharap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Yogyakarta dapat terus berkembang dan bangkit dari pandemi COVID-19. Oleh karena itu, implementasi dari tiga pilar utama Kemenparekraf yakni inovasi, adaptasi, dan kolaborasi harus dilakukan. Disertai dengan pendekatan 3G ‘gercep’ gerak cepat, ‘geber’ gerak bersama, dan ‘gaspol’ garap semua potensi untuk menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya.

Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta Alia Swastika mengungkapkan bahwa Biennale Jogja kali ini menjadi istimewa karena menandai satu dekade Biennale Jogja seri khatulistiwa, yang dimulai sejak 2011. Untuk itu, diselenggarakan pula pameran arsip yang menampilkan kembali serpihan artefak dan catatan tentang bagaimana Yayasan Biennale Yogyakarta tumbuh dan berkembang dalam ekosistem seni di Yogyakarta dan di kawasan Global Selatan.

“Biennale Jogja tahun ini menjadi penutup dari rangkaian seri Ekuator. Tentu akan ada kejutan-kejutan lainnya dari Yayasan Biennale Yogyakarta,” ujarnya.

Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 ini menyuguhkan berbagai program pameran yang menarik, sepertu Pameran Utama di Jogja National Museum menampilkan karya dari lebih 30 seniman Indonesia dan mancanegara. Selain pameran utama, terdapat juga Pameran Arsip di Taman Budaya Yogyakarta yang menampilkan arsip-arsip dalam format yang berbeda, berubah menjadi pertunjukan, instalasi, dan bentuk lainnya.

Ada juga Pameran Bilik Taiwan “Pan – Austro-Nesian” di Jogja National Museum sebagai program bersama dengan The National Culture and Art Foundation, Taiwan dan Kaohsiung Museum of Fine Art. Bilik Taiwan menyajikan karya-karya Rahic Talif, ChihChung Chang, dan C&G Art Group (Chieh-Sen Chiu & Margot Gullemot).

Kemudian, ada Pameran Bilik Korea – Konnect Asean di Museum dan Tanah Liat (MDTL) dan Indie Art House sebagai salah satu paviliun negara Korea-ASEAN. Dikuratori oleh Alia Swastika (Indonesia) dan Jongeun Lim (Korea Selatan). Pameran stan ini secara khusus berfokus pada hubungan antara gerakan, seni, dan pengetahuan/pengalaman perempuan.

Selanjutnya ada Program Labuhan, yang menghadirkan serangkaian program terhubung di empat kota yaitu Jayapura, Kupang, Maumere, Ambon, dan diproduksi bersama institusi atau kolektif seni di wilayah masing-masing. Membicarakan kebudayaan maritim dan narasi sosial budaya yang menghubungkan antara Indonesia bagian timur dengan wilayah Oseania.

Biennale Jogja kali ini juga menggelar beberapa program publik yang menghadirkan narasumber kompeten di bidang seni rupa kontemporer dalam dan luar negeri. Beberapa program publik tersebut bertajuk Forum Diskusi Publik dan Sesi Viral yang dikemas secara online.

Previous Post

Menperin Agus Optimistis Industri Tumbuh 5,5 Persen Tahun 2022

Next Post

Penyesuaian PPKM Level 3, MRT Ubah Jam Operasional

Related Posts

Sebagai Penggerak Ekonomi Pesisir, Nelayan Butuh Dukungan Asuransi
KEBIJAKAN

Sebagai Penggerak Ekonomi Pesisir, Nelayan Butuh Dukungan Asuransi

May 5, 2026
SIARAN PERS KONGRES WANITA INDONESIA (KOWANI)
BERITA TERKINI

SIARAN PERS KONGRES WANITA INDONESIA (KOWANI)

May 2, 2026
Qanitha Himazova Designing Without Limits: Ketika Kreativitas dan Perupa Jadi Bahasa Inklusi anak Gen Z
BERITA TERKINI

Qanitha Himazova Designing Without Limits: Ketika Kreativitas dan Perupa Jadi Bahasa Inklusi anak Gen Z

May 2, 2026
Peresmian PEWIBI oleh Menteri Kebudayaan RI – Fadli Zon
BERITA TERKINI

Peresmian PEWIBI oleh Menteri Kebudayaan RI – Fadli Zon

April 30, 2026
Resmi Digelar ARCH:ID 2026 Siap Perkuat Industri Arsitektur
Uncategorized

Resmi Digelar ARCH:ID 2026 Siap Perkuat Industri Arsitektur

April 23, 2026
Komunikasi Dua Arah Sukses antarkan Kaltimtara Raih Platinum Award ICCA 2026 dari Econimic Review
BERITA TERKINI

ICCA 2026 : Helatan Economic Review, IMFI Raih Platinum Award

April 16, 2026
Next Post
Penyesuaian PPKM Level 3, MRT Ubah Jam Operasional

Penyesuaian PPKM Level 3, MRT Ubah Jam Operasional

Recent Posts

  • Sebagai Penggerak Ekonomi Pesisir, Nelayan Butuh Dukungan Asuransi
  • SIARAN PERS KONGRES WANITA INDONESIA (KOWANI)
  • Qanitha Himazova Designing Without Limits: Ketika Kreativitas dan Perupa Jadi Bahasa Inklusi anak Gen Z
  • Peresmian PEWIBI oleh Menteri Kebudayaan RI – Fadli Zon
  • Resmi Digelar ARCH:ID 2026 Siap Perkuat Industri Arsitektur
  • Pemerintah Targetkan Akhir Agustus Capai Herd Immunity Setelah 80 Persen Warga Jakarta Tervaksin
  • Inggris Kembalikan 120 Manuskrip Kuno Bentuk Digital, Trah HB II Protes
  • Brother Luncurkan Printer Laser dengan Toner Original Terhemat Rp. 190 Ribu
  • HC Jadi Kunci Kesuksesan BNI Meraih 3 Penghargaan Human Capital Award 2024

TENTANG KAMI

REDAKSI

BERIKLAN

KONTAK KAMI

© 2020 Economic Review - Powered by Webcorner.id

No Result
View All Result
  • HOME
  • EKONOMI & BISNIS
  • FINANSIAL
  • KEBIJAKAN
  • GAYA HIDUP
  • KORPORASI
  • OPINI
  • BERITA TERKINI
  • SOSIAL & BUDAYA
  • OTOMOTIF
  • EVENT

© 2020 Economic Business Review - Powered by Webcorner.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
sponsored