Economic Review- Memasuki masa prihatin. Itulah yang dihadapi maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia Airways. Demi alasan efisiensi managemen PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk berencana memangkas jumlah rute yang diterbangi maskapai dari 237 rute menjadi hanya 140 rute. Manajemen telah memetakan rute-rute yang tidak potensial dan merugikan perusahaan, seperti tujuan Tarakan.
“Selama inintuk kami terdesak membuka rute yang enggak bikin untung. Ada banyak tekanan pembukaan rute. Jadi mohon dukungan apabila kami bilang enggak akan membuka rute. Mohon maaf, banyak maaf,” ujar Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, (9/11)
Irfan menjelaskan perusahaan menanggung kerugian akibat beroperasinya sejumlah maskapai di rute-rute yang tidak mendorong pendapatan. Pendapatan yang diperoleh maskapai dari rute-rute tertentu ini tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan.
Selain itu, maskapai harus menjalankan pesawat yang jenisnya tidak sesuai dengan karakteristik perusahaan sehingga semakin membebani ongkos produksi. Dua jenis pesawat yang dimaksud adalah Bombardier CRJ dan ATR.
Tak hanya dalam negeri, lanjut Irfan, perusahaan telah mengurangi secara masif penerbangan untuk rute internasional. Pada awal 2020, perusahaan memangkas rute penerbangan ke Amsterdam, London, dan Nagoya. Sejalan dengan pengurangan rute, perusahaan pun meminimalkan frekuensi penerbangan ke rute-rute tertentu. Salah satunya Jakarta-Yogyakarta. “Sekarang ke Jogja hanya bisa pagi. Jadi kalau mau ke Jogja pulang hari, silakan dari Solo,” tutur Irfan.
Efisiensi rute dan pemangkasan frekuensi merupakan salah satu rencana bisnis Garuda yang tercantum dalam proposal restrukturisasi. Maskapai ekor biru yang tengah menanggung kerugian mencapai US$ 9,8 miliar atau nyaris Rp 140 triliun itu sedang bernegosiasi dengan 32 lessor untuk menurunkan beban operasionalnya.
Adapun restrukturisasi membutuhkan waktu sekitar 270 hari. Selama proses restrukturisasi berlangsung, Irfan mengatakan Garuda harus memperoleh keuntungan.
Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo atau Tiko berujar Garuda akan menempuh tiga skema restrukturisasi. Pertama, Garuda bakal mengurangi jumlah pesawat dari 202 armada pada 2019 menjadi 134 pada 2022 selain memangkas rute dan frekensi. Pengurangan jumlah armada ini sejalan dengan pemangkasan jenis pesawat dari 13 menjadi tujuh. “Ini memang jadi tantangan. Akan banyak airport (bandara) mengalami penurunan jumlah flight Garuda,” paparnya..
Tiko juga mengatakan, kalau dalam kondisi saat ini, kalau dalam istilah perbankan ini technically bangkrupt (secara teknis bangkrut), tapi legally belum. Sekarang pihaknya sedang berusaha untuk keluar dari kondisi ini yang technically bangkrupt. Kondisi keuangan Garuda Indonesia saat ini memiliki ekuitas negatif sebesar 2,8 milliar dollar AS atau sekitar Rp 40 triliun per September 2021.
“Artinya, perusahaan memiliki utang yang lebih besar ketimbang asetnya. Saat ini liabilitas atau kewajiban Garuda Indonesia mencapai 9,8 miliar dollar AS, sedangkan asetnya hanya sebesar 6,9 miliar dollar AS,” pungkasnya.


