Economic Review – Jakarta, 18 Februari 2025 –Menteri Perdagangan Budi Santoso, atau Mendag Busan, menyampaikan, neraca perdagangan Indonesia masih melanjutkan surplus bulanan di awal 2025 ini. Pada periode Januari 2025, surplus neraca perdagangan membukukan USD 3,45 miliar. Surplus Januari 2025 didorong surplus nonmigas USD 4,88 miliar dan defisit migas USD 1,43 miliar.
Angka surplus ini lebih tinggi jika dibandingkan surplus Desember 2024 yang sebesar USD 2,24 miliar dan surplus Januari 2024 yang sebesar USD 2,00 miliar. Capaian surplus Januari 2025 juga menandakan kelanjutan tren surplus untuk 57 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
“Surplus perdagangan Indonesia periode Januari 2025 tercatat sebesar USD 3,45 miliar. Hal ini melanjutkan tren surplus sejak 2020. Capaian tersebut merupakan awal yang baik untuk mendorong kinerja perdagangan luar negeri sepanjang tahun,”ujar Mendag Busan.
Lebih lanjut, Mendag Budi Santoso menjelaskan, negara penyumbang surplus nonmigas terbesar bagi Indonesia adalah Amerika Serikat (AS) dengan nilai surplus sebesar USD 1,58 miliar, diikuti India USD 0,77 miliar, Filipina USD 0,73 miliar, Arab Saudi USD 0,60miliar, dan Malaysia USD 0,44 miliar.Ekspor Nonmigas Januari 2025 Lebih Tinggi Dibanding Januari 2024Pada Januari 2025, total ekspor Indonesia mencapai USD 21,45 miliar. Meski turun 8,56 persen dibandingkan Desember 2024 (MoM), nilai ini justru naik 4,68 persen dibanding Januari 2024 (YoY).
Sementara itu, nilai ekspor nonmigas Januari 2025 tercatat USD 20,40 miliar dan migas USD 1,06 miliar. Nilai ekspor nonmigas Januari 2025 juga turun bila dibandingkan dengan Desember 2024 sebesar 6,97 persen (MoM), namun ikut meningkat jika dibandingkan dengan Januari 2024 (YoY) sebesar 6,81 persen.Beberapa produk utama ekspor nonmigas dengan kenaikan tertinggi pada Januari 2025, antara lain, kapal, perahu, dan struktur terapung (HS 89) yang naik 4.732,44 persen; kakao dan olahannya (HS 18) naik 169,53 persen; bahan kimia anorganik (HS 28) naik 126,02 persen; kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) naik 125,44 persen; serta logam mulia, perhiasan, dan permata (HS 71) naik 52,17 persen (YoY).
Jika dilihat dari sektornya, kontribusi ekspor industri Indonesia terus meningkat selama tiga tahun terakhir. “Pada Januari 2025, pangsa ekspor sektor industri mencapai 84,00 persen, menjadikannya yang tertinggi bila dibandingkan dengan Januari 2023 dan Januari 2024,”kata Mendag Busan.Sementara itu, sektor pertambangan menempati urutan kedua pangsa ekspor nonmigas untuk periode Januari 2025 dengan kontribusi sebesar 13,33 persen. Kemudian, disusul sektor pertanian dengan kontribusi sebesar 2,67 persen.
Mendag Busan mencatat, dilihat dari pertumbuhannya, sektor yang meningkat paling signifikan adalah pertanian. Pada Januari 2025, sektor ini mencatat pertumbuhan sebesar 45,46 persen dibanding Januari 2024.Kemudian, diikuti sektor industri dengan pertumbuhan 14,02 persen (YoY). Di sisi lain, ekspor sektor pertambangan dan lainnya turun 26,45 persen.


