EconomicReview-Jakarta, 27 September 2025 – Indonesia kembali meneguhkan komitmennya terhadap pembangunan berkelanjutan melalui penyelenggaraan Konferensi Nasional CSR–SDG–ESG VIII Tahun 2025, yang diadakan oleh Economic Review di Auditorium Perpustakaan Nasional RI, Jakarta. Mengangkat tema “Inovasi, Keberlanjutan dan Penciptaan Nilai Terukur Dampak Program CSR–SDG–ESG,” acara ini menghadirkan para pemimpin pemikiran dari sektor korporasi, pemerintahan, hingga komunitas internasional untuk merumuskan sinergi strategis menghadapi tantangan global.
Dalam sesi pleno, Ari Tjahjanto, BSc (Hons), M.PKB, CPOD, CMA, SEA, CEO Wongke Solusi Nusantara, tampil sebagai pembicara utama dengan paparan berjudul “Sustainability Productivity: Menggapai Cita-Cita Indonesia Emas 2045.”
Ari menguraikan korelasi langsung antara keberlanjutan, produktivitas, dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), serta menunjukkan bagaimana krisis iklim, seperti naiknya permukaan laut dan percepatan Earth Overshoot Day di Indonesia, telah berdampak signifikan terhadap daya saing tenaga kerja dan efisiensi ekonomi nasional.
“Sustainability productivity bukan sekadar jargon atau strategi bisnis jangka pendek, melainkan fondasi peradaban masa depan. Kita sedang membangun pondasi bagi Indonesia yang adil, makmur, dan berdaya saing global di tahun 2045,” tegasnya.
Ia juga memaparkan tren dan inisiatif produktivitas global, termasuk digitalisasi, sistem kolaboratif, pengembangan tenaga kerja masa depan, serta adopsi praktik bisnis berkelanjutan. Ari menegaskan bahwa pelaksanaan CSR yang berbasis SDGs tidak hanya meningkatkan reputasi perusahaan, tetapi juga secara empiris menaikkan produktivitas dan kinerja organisasi.
Sesi berikutnya menghadirkan Ir Nurmaria Sarosa, SA, CMLT seorang tokoh perempuan inspiratif yang dikenal luas di sektor logistik dan keuangan. Membawakan materi berjudul “Sustainable Growth Starts Here: Why ESG Matters and How to Lead,” Nurmaria mengulas pentingnya ESG sebagai kerangka strategis dalam tata kelola korporasi modern.
Sebagai Ketua WiLAT Indonesia dan Komisaris Independen PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk periode 2022 – 2025, Nurmaria menyoroti urgensi integrasi ESG dalam menghadapi tekanan investor, perubahan regulasi global, dan pergeseran preferensi konsumen.
Ia menjabarkan siklus implementasi ESG melalui tahapan: Assess, Plan, Integrate, Report, yang terbukti memberikan nilai bisnis konkret, baik dari sisi pengurangan risiko, efisiensi operasional, hingga daya tarik investasi.
“ESG bukanlah kegiatan filantropi atau sekadar strategi komunikasi. Ini adalah instrumen daya saing jangka panjang, yang menuntut konsistensi, integritas, dan kepemimpinan lintas fungsi,” ujar Nurmaria dalam presentasinya.
Diskusi kedua tokoh ini dipandu oleh Ir. Irina Milwadani, PhD, seorang pakar Tata Lingkungan dan Dosen Universitas Gunadarma. Irina dengan cermat memfasilitasi diskusi mendalam seputar tantangan CSR, ESG dan SDG di Indonesia.
Konferensi ini juga mendapat dukungan dari tokoh-tokoh nasional seperti Prof. Dr. Ir. Marsudi Wahyu Kisworo, MSc, IPU, anggota Dewan Pengarah BRIN, serta Gunawan Wibjaksono, PhD, akademisi dan Ketua Dewan Juri CSR Economic Review 2025.
Hj. Irlisa Rachmadiana, SSN, MM, pendiri Economic Review, menyampaikan dalam sambutannya bahwa forum ini bertujuan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor guna mempercepat transisi keberlanjutan di dunia usaha Indonesia.
“Kami percaya bahwa keberlanjutan bukanlah tujuan akhir, melainkan cara kerja baru yang harus tertanam di setiap lini bisnis,” ujar Irlisa.
Melalui dialog lintas sektor, paparan berbasis data, serta studi kasus nyata, Konferensi CSR–SDG–ESG 2025 membuktikan bahwa komitmen terhadap keberlanjutan dapat diterjemahkan menjadi produktivitas, profitabilitas, dan kemajuan bangsa.
Agenda ini sekaligus menjadi bagian penting dari peta jalan menuju Indonesia Emas 2045, di mana tanggung jawab sosial dan kinerja ekonomi bukanlah pilihan, tetapi keharusan bersama.








