Economic Review- Jumlah pelaku Usaha Menengah, Kecil dan Mikro (UMKM) di Indonesia hampir 50 % dimiliki oleh perempuan. Namun ironisnya, banyak perbankan yang justru belum maksimal dalam memberikan dana kredit bagi pelaku UMKM.
Hal tersebut diungkapkan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, dalam acara daring CSW 66 Side Event dengan tema “Financial Inclusion and Women MSMEs: Experiences from the Republic of Indonesia and Global Partners”.
“ Jumlah aliran dana kredit kepada UMKM terutama yang dimiliki perempuan masih rendah karena perbankan masih belum terbiasa dalam melayani kebutuhan mereka. Dan ini adalah sesuatu yang masih menjadi tantangan bagi banyak bank karena mereka belum biasa untuk melayani
UMKM yang dimiliki oleh perempuan,” ujar Menkeu di Jakarta, kemarin.
Dikatakannya, dari total kredit yang disalurkan oleh perbankan, hanya 18 persen yang disalurkan kepada UMKM. Padahal 50 persen usaha mikro dimiliki oleh perempuan, sedangkan pada usaha menengah hanya 34 persen yang dimiliki oleh perempuan. Sehingga semakin kecil kegiatan usaha ini, maka lebih mungkin pemiliknya adalah perempuan.
Menkeu Sri mengatakan UMKM memberikan kontribusi 60 persen dari sisi ketersediaan pekerjaan sehingga perempuan memainkan peranan yang sangat penting dalam menciptakan kesempatan kerja. Sementara PDB di Indonesia juga sangat mengandalkan perempuan. Oleh karena itu sangat penting bagi perempuan untuk bisa mendapatkan akses terhadap institusi keuangan.
Pihaknya menjelaskan pemerintah telah mengucurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) berupa pinjaman kecil yang diberikan oleh bank dengan subsidi dalam bentuk suku bunga. “Di dalam tiga tahun terakhir ini, karena ada pandemi, kami telah melakukan ekspansi secara cukup signifikan, dari Rp200 triliun, sekarang hampir Rp370 triliun. Diharapkan melalui penyaluran kredit ini, para perempuan mendapatkan akses yang lebih besar terhadap institusi keuangan,” pungkasnya.








