EconomicReview-Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yang diwakilkan oleh Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, resmi membubarkan 7 perusahaan pelat merah jelang akhir 2023. Penutupan permanen 7 BUMN tersebut lantaran memiliki kinerja yang buruk atau financial distress dan highly over-laverage.
“Hari ini kita akan update proses pembubaran BUMN. Proses transformasi BUMN yang dilakukan Pak Erick sejak 2019, kita melakukan bersih-bersih BUMN, ini beragam, ada holdingisasi, merger, dan penanganan BUMN-BUMN bermasalah,” kata Kartika saat konferensi pers update pembubaran 7 BUMN di Menara Danareksa, Jakarta, Jumat (29/12/2023).
Sementara itu, Tiko menuturkan, proses pembubaran dilakukan secara bertahap sesuai transformasi Kementerian BUMN hingga 2034. Wamen BUMN berharap, proses pembubaran akan memangkas perusahaan pelat merah hingga berjumlah kurang dari 40 dengan 12 klaster ke depannya. Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PPA, Teguh Wirahadikusumah mengatakan, proses pembubaran 7 BUMN akan dilakukan melalui proses pengadilan. Setelah itu, akan melalui proses kurator untuk menyelesaikan aset.
Ada pun terdapat tiga parameter mengenai perusahaan pelat merah yang terindikasi untuk tutup permanen. Parameter ini dilihat secara berkala sampai ditentukan akan dibubarkan. Pertama, terkait parameter mengenai kesehatan keuangan, lalu dibuat parameter kontribusi perusahaan terhadap perekonomian. Ketiga, parameter yang melihat model bisnis akan sustainable ke depannya.
Untuk diketahui, PPA adalah bagian dari Holding BUMN Danareksa yang diberikan mandat untuk berperan sebagai pengelola aktif atas sejumlah BUMN. PPA menjadi perusahaan pengelola aset negara dengan spesialisasi restrukturisasi dan revitalisasi BUMN, investasi, pengelolaan aset perusahaan negara, dan advisory.
Berikut profil 7 perusahaan BUMN yang dibubarkan :
1. PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) didirikan pada 1962 dan beroperasi di Jakarta. Namun, sejak 1 Februari 2014 Merpati resmi berhenti mengudara. Penghentian ini terjadi karena masalah keuangan yang bersumber dari berbagai utang. Hingga saat ini, seluruh aset milik Merpati telah dioperasikan oleh PPA.
2. PT Kertas Kraft Aceh (Persero) PT Kertas Kraft Aceh (KKA) berhenti beroperasi sejak 2007 karena kesulitan mendapat bahan baku. Produsen kertas pembungkus semen ini memiliki pabrik dengan kapasitas terpasang 135.000 ton per tahun yang zona industri Lhokseumawe, Aceh Utara. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pernah memiliki kenangan khusus dengan KKA. Jokowi sempat bekerja di KKA saat dirinya merantau ke Aceh.
3. PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero) PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional atau yang lebih akrab dikenal dengan PT PANN merupakan perusahaan plat merah yang bergerak dalam bidang pembiayaan kapal niaga. Namun, PT PANN tercatat memiliki aset Hotel di Bandung yakni Garden Permata Hotel dan Hotel Grand Surabaya. Menurut perseroan, kedua hotel ini merupakan hasil sitaan perseroan kita masih beroperasi sebagai perusahaan multifinance.
4. PT Kertas Leces (Persero) PT Kertas Leces merupakan pabrik kertas tertua kedua di Indonesia, mengalami masa sulit sejak 2014 karena menjalani gugatan permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Namun, nasib Kertas Leces berakhir tragis setelah menerima putusan pailit oleh Pengadilan Niaga Surabaya pada September 2018.
5. PT Istaka Karya (Persero) Mengutip laman resmi perseroan, Istaka adalah perusahaan jasa konstruksi yang telah berdiri sejak 1979 dengan nama PT Indonesian Consortium of Construction Industries (ICCI). Sejatinya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah membubarkan BUMN PT Istaka Karya melalui Peraturan Pemerintah (PP) No.13/2023. Istaka Karya dibubarkan karena putusan pailit Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 12 Juli 2022. “Sehingga harta pailit Perusahaan Perseroan [Persero] berada dalam keadaan insolvensi,” tulis Jokowi dalam beleid yang diterbitkan pada Jumat (17/3/2023).
6. PT Industri Gelas (Persero) PT Industri Gelas atau umumnya disingkat Iglas adalah produsen kemasan gelas, khususnya botol. Sejak 2015, Iglas berhenti berproduksi lantaran sepinya orderan. Selain itu, kondisi perseroan juga diperburuk akibat kasus korupsi yang dilakukan oleh mantan Dirut Iglas Daniel Sunarya.
7. PT Industri Sandang Nusantara (Persero) PT Industri Sandang Nusantara (ISN) merupakan perusahaan tekstil milik pemerintah. ISN perusahaan ini merupakan penghasil benang tenun, karung dan karung plastik. Mengutip dari laman resmi perseroan, ISN memiliki tujuh unit produksi yakni di Makassar, Pasuruan, Malang, Semarang, Tegal, Cilacap, dan Bandung.




