EconomicReview – Tak banyak pengusaha yang konsisten mengangkat dan mempertahankan warisan leluhur dalam bisnis yang ditekuninya. Padahal, warisan leluhur ini jika dikemas dalam packaging yang menarik, tentu akan mendatangkan cuan yang berlimpah. Sebut saja, misalnya, makanan tradisional, kain-kain tradisional, peralatan dan perlengkapan ibadah serta masih banyak lainnya.
Dari yang sedikit itu, satu di antaranya adalah Alwantriati Tundrarizmi, pengusaha asal Palembang yang konsisten mengangkat warisan leluhur berupa kain songket Palembang menjadi bisnis menggiurkan selama hampir 21 tahun dalam menekuni bisnis songket ini. Omsetnya rata-rata tembus di angka Rp1 miliar setiap tahunnya. Bahkan di tengah pandemi Covid-19 pada 2020 ini, omset bisnisnya justru tembus angka Rp1,5 miliar, hasil kreativitasnya menangkap peluang bisnis dengan tetap mempertahankan core bisnisnya.
Kreativitas, inovasi, ulet dan kerja kerasnya mempertahankan warisan leluhur berupa kain songket Palembang ini membuat Alwantriati Tundrarizmi yang akrab dipanggil Tria Gunawan memperoleh penghargaan API 2020.
“Alhamdulillah bisnis kain songket saya terus berkembang dan mampu memberi penghidupan yang layak bagi karyawan-karyawan saya. Bahkan di saat pandemi seperti saat ini, saya tidak mengurangi karyawan. Ada berkah di balik pandemi yang membuat usaha saya tetap jalan,” ujar Tria Gunawan, desainer sekaligus pemilik Rumah Busana Tria di Palembang.
Tria tak mampu menutup rasa syukurnya karena di saat banyak usaha tutup atau bangkrut di tengah pandemi, dia mendapat peluang bisnis lainnya yakni dengan membuat masker dari kain dan perlengkapan APD. “Ordernya dari Pemprov Sumsel sejak Maret 2020. Awalnya ragu-ragu karena masker kain belum terstandarisasi. Begitu Presiden Jokowi memperbolehkan pembuatan masker kain, ordernya pun membludak hingga ribuan setiap harinya,” ujarnya.
Perempuan 55 tahun yang masih tampil cantik ini mengakui bahwa order masker ini sebagai pengganti sementara bisnis kain songket Palembang yang mengalami penurunan karena pembelinya sedikit. Sukses di masker, dia juga diminta oleh Pemprov Sumsel untuk membuat APD. Sempat kesulitan mencari bahan bakunya, akhirnya dia juga sukses menjalankan bisnis APD. Imbasnya dirasakan oleh semua karyawannya yang harus lembur menyelesaikan pesanan.
“Ini sungguh luar biasa berkat pertolongan Allah SWT. Karyawan saya yang awalnya berkeluh kesah karena penghidupan mereka terganggu, kini mereka bisa tersenyum. Penghasilan mereka bisa 2-3 kali lipat dari penghasilan yang selama ini mereka terima,” ujarnya.
Torehkan Banyak Prestasi
Nama Tria Gunawan kini sangat popular di Palembang. Siapa pun yang ingin mencari atau mengoleksi kain songket, jumputan khas Palembang pasti akan datang ke Rumah Busana Tria Gunawan. Sosok perempuan Palembang ini berhasil mengubah pandangan orang mengenai kain tradisional yang selama ini dianggap kaku termasuk mengenalkan dan mengangkat nilai luhur kain songket Palembang. Kain songket merupakan warisan lelulur yang memiliki nilai tinggi. Kesulitan menenun dengan motif keemasan, membuat kain ini memiliki nilai dan harga cukup mahal.
“Sejak dulu saya bisa menjahit. Karena itu saya mencoba menekuni profesi ini. Untuk jenis kain, saya pilih songket karena punya keunikan, kekhasan, dan potensi luar biasa. Hanya belum ada desainer yang menggarapnya secara serius,” katanya.
Keberhasilan yang kini diraihnya berkat kerja keras, tekun, ulet, dan membekali diri dengan wawasan baru merupakan bagian dari prinsip hidup yang selalu dia kembangkan dalam merintis karier sebagai penjahit dan desainer pakaian ini. Perempuan yang pernah berkarir di industri perbankan ini memulai usaha tenun kain songket sejak 1997 dengan modal dari uang pensiun dini dari bank. “Hasilnya bukan cuma usaha, tetapi ada idealisme mengembangkan songket,” katanya.
Tria Gunawan (45) terus menorehkan beragam prestasi baik di kancah nasional maupun internasional. Bahkan di setiap kesempatan, pemilik Rumah Busana Tria ini tak pernah lupa membawa hasil karya tenunnya berupa kain songket Palembang
Penghargaan Upakarti 2006 diperoleh Tria atas ide kreatif yang memodifikasi songket tembaga dengan kain jumputan dan songket bordir. Bahkan, Tria bisa memodifikasi kain songket dengan batik. Ilmu membatik ia peroleh ketika mendampingi suaminya melanjutkan pendidikan di Yogyakarta.
Penghargaan lainnya antara lain Kriya Nusantara Terbaik dari Ketua Umum Dekranas Pusat (2006), Kriya Potensi Ekspor dari Menteri Perdagangan (2006), Wanita Pengusaha Berprestasi dari DPP Iwapi (2007), Anugerah Produktivitas Siddhakarya dari Gubernur Sumsel (2007), Cipta Kreasi Indonesia untuk Kriya Potensi Daerah dari Ketua Umum Dekranas Mufidah Yusuf Kalla (2009) hingga Kartini Awards, sebagai Perempuan Indonesia Terinspiratif dari Ny Ani Susilo Bambang Yudhoyono (2009) dan 1’st Royal Trophy ASEAN Silk di Thailand (2009).
“Yang sangat berkesan ketika Ibu Ani Yudhoyono menyatakan kekagumannya atas songket Palembang yang dia kembangkan. Ibu Ani, selama ini telah berkali-kali membeli songket yang diproduksi rumah busana Tria Gunawan,” ujarnya.

Hingga kini Tria terus mencari terobosan baru agar usahanya tetap eksis dan lebih berkembang menapaki pangsa pasar yang lebih luas—dari kalangan ibu-ibu, anak-anak, dan remaja. Pasalnya selama ini, konsumen kain songket Rumah Busana Tria hanya kalangan atas.
Waktunya banyak dihabiskan untuk membuat songket menjadi lebih indah dan variatif sehingga tetap diminati masyarakat. Untuk menjadikan songket lebih menarik, Tria menggunakan berbagai bahan tambahan, di antaranya benang emas dan tembaga.
Kini, di rumahnya yang besar dan luas, di Jalan Anggar E-11, Kampus, Palembang, Tria bersama lebih kurang 63 karyawan mengembangkan usaha kain tenun songket dengan label Rumah Busana Tria. Tria juga memanfaatkan sekaligus menyulap ruang tamu menjadi ruang pajang karyanya. “Kalangan ibu-ibu sudah sangat mengenal Rumah Busana Tria,” katanya.








