EconomicReview – Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menguraikan masa depan aset kripto di Indonesia yang sangat potensial meningkat dan berdampak pada perekonomian nasional. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah investor kripto dan nilai transaksi dari waktu ke waktu, namun juga dari semakin bertambahnya platform untuk investasi aset kripto.
Demikian dipaparkan Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga dalam kuliah umum di Universitas Islam Nasional (UIN) Mahmud Yunus Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat pada hari ini, Selasa (28/6). Tema yang diusung pada kuliah umum ini yaitu “Peluang dan Tantangan Investasi Crypto dalam Ekosistem Investasi di Indonesia”.
Aset kripto di Indonesia mengalami lonjakan luar biasa. Per 2020, nilai transaksi aset kripto sebesar Rp64,9 triliun. Satu tahun kemudian, per Desember 2021, angkanya melonjak sangat signifikan menjadi Rp859,4 triliun.
“Karena pesatnya perkembangan tersebut, Bappebti telah menyiapkan infrastruktur yang esensial, seperti bursa kripto, lembaga kliring, dan pengelola tempat penyimpanan aset kripto (depository) untuk mendukung ekosistem perdagangan fisik aset kripto Indonesia, khususnya yang memberikan kepastian dan kenyamanan bagi konsumen,” ujar Wamendag Jerry.
Wamendag tegas mengingatkan bahwa kripto di Indonesia adalah sebuah aset atau komoditas, bukan alat pembayaran yang sah secara peraturan perundangundangan. Terkait tren investasi yang semakin meluas di masyarakat, Wamendag juga mengingatkan agar masyarakat perlu memperhatikan beberapa hal dalam melakukan investasi secara aman.
Pertama, sebelum memutuskan untuk bertransaksi aset kripto, setiap orang harus memastikan paham benar apa itu aset kripto dan mekanisme perdagangannya. Kedua, berinvestasi di calon pedagang aset kripto yang memiliki tanda daftar dari Bappebti. Ketiga, menginvestasikan dana untuk jenis aset kripto yang telah diatur Bappebti.
Di samping itu, calon investor juga perlu memastikan dana yang digunakan adalah dana lebih yang dihasilkan secara legal, bukan dana yang digunakan kebutuhan sehari-hari. “Investor harus mempelajari risiko yang mungkin timbul dan perkembangan harga aset kripto yang terjadi, karena harga yang fluktuatif. Investor harus pantang percaya dengan janji-janji keuntungan tetap atau tinggi,” tegas Wamendag.
Dengan adanya kecanggihan teknologi dan keterbukanan informasi, animo masyarakat untuk memilih kripto sebagai salah satu aset atau alternatif atas instrumen investasi konvensional akan semakin tinggi di waktu mendatang. “Jumlah nasabah aset kripto telah mencapai 14,1 juta pada Mei. Sementara itu, investor saham tercatat hanya 8,86 juta,” ungkap Wamendag.
Secara khusus, Wamendag menyampaikan bahwa penting bagi para mahasiswa untuk memahami aset kripto, baik dalam rangka mengkaji maupun melengkapi diri sebelum berinvestasi. “Demografi investor kripto didominasi kelompok usia 18–24 tahun, yaitu 32 persen; kelompok 25–30 tahun 30 persen; dan kelompok 31–35 tahun 16 persen,” ungkap Wamendag. Berdasarkan kelompok profesi yakni persentasi karyawan swasta mendominasi sebesar 28 persen, wiraswasta 23 persen, dan pelajar/mahasiswa 18 persen.
Sejauh ini, Bappebti mencatat lima calon pedagang fisik aset kripto dengan nilai transaksi tertinggi pada Januari–Mei 2022, yaitu PT Aset Digital Berkat (Tokocrypto), PT Indodax Nasional (IndonesiaIndodax), PT Pintu Kemana Saja (intu), PT Rekeningku Dotcom Indonesia (ekeningku), dan PT Zipmex Exchange Indonesia (Zipmex). Adapun lima jenis aset kripto dengan nilai transaksi tertinggi, yaitu Tether (Rp42,3 triliun), Bitcoin (Rp 18,5 triliun), Ethereum (Rp14,2 triliun), Doge Coin (Rp6,8 triliun), dan Terra (Rp6 triliun).








