Economic Review- Tidak banyak yang tahu bagaimana mengolah kopi lokal sehingga mampu berdaya saing di pasar global. Lain halnya dengan sosok Ira Damayanti, berkat kepiawainnya mengolah biji kopi lokal dan memberdayakannya bersama masyarakat sekitar, jadilah brand kopi lokal ‘Kloeching’ merambah hingga pasar mancanegara. Karena prestasinya tersebut, wajar jika para Dewan Juri dalam ‘Anugerah Perempuan Indonesia’ (API) Award VIII 2022 menobatkannya sebagai yang terbaik untuk Perempuan Pemimpin Perusahaan Swasta dengan Katagori ‘Pemimpin Perusahaan Perkebunan Produksi Kopi’.
“Kopi yang kami olah adalah Kopi Ijeng-Raung yang berasal dari kaki gunung perbatasan Ijen-Raung dan sudah ada sejak tahun 1927. Pada saat itu, kopi ini menjadi andalan VOC dan hasil keseluruhannya habis diekspor ke Belanda,” kata Ira Damayanti.
Namun untuk saat ini, lanjut dia, brand Kopi Kloeching telah merambah ke Korea dan Jepang. Selain ke Jerman, Belgia, Perancis, Swiss dan Amerika. Kelebihan dari kopi ini adalah karena kopI Jawa IIjen Raung terkenal enak dan memiliki citarasa unik bagi penikmat kopi mancanegara. “Kenapa memiliki nama Kloeching ? nama tersebut merupakan plesetan nama dari tempat tumbuhnya yakni di Dusun Kluncing, Bondowoso,” imbuhnya sambil tersenyum.
Ira Damayanti jujur mengaku tidak mudah mengolah dan membuat produksi kopinya diminati masyarakat hingga ke mancanegara. Pasalnya, masyarakat di dusun Kluncing, Bondowoso sudah terbiasa memproduksi dan membuat kopi ala kadarnya. “Serta cenderung terpaku pada tradisi pembuatan mereka,” tuturnya menjelaskan kepada para Dewan Juri API 2022 saat melakukan penjurian virtual.
Ketika itu juga banyak petani kopi yang merasa bahwa kopi yang diolah oleh mereka hasilnya sudah enak dan seperti yang biasa mereka lakukan dalam menghasilkan kopi melalui cara Dry Proses. Dry Proses adalah cara menjemur kopi dimana chery kopi mengalami penjemuran ala kadarnya di halaman rumah lalu disangrai kulitnya. Karena proses ini pula, warna kopi menjadi kurang menarik.
“Hasil dari para petani kopi tadi memang tidak memuaskan dan itu terjadi selama berbulan-bulan. Sampai kemudian, saya menemukan cara dalam mengolah kopi dan membiasakan para petani kopi tadi melakukan proses pembuatan kopi sesuai apa yang saya inginkan. Dan itu dilakukan secara bertahap, step by step. Yang hasilnya bisa kita rasakan semua hingga saat ini,” paparnya bangga.
Ibu yang sempat bermukim di Manchester Inggris ini menyakini, jika ingin meraih konsumen yang sudah terbiasa minum kopi dengan teknologi impor, maka yang harus dilakukan adalah mau belajar hal baru dengan melakukan pembaruan, agar kopi yang dijual memenuhi standar konsumen.
Melalui hasil kerja kerasnya tersebut bersama dengan para petani kopi, brand kopi Kloeching terus eksis dan bersinar hingga ke banyak tempat. Pihaknya mengaku optimis brand kopi mereknya mampu bersaing dengan merek import yang belakangan ini sudah marak merambah masuk ke Indonesia.








