Economic Review- Bagi sebagian pelaku bisnis pemula tidak sedikit yang masih rancu dalam membedakan antara berdagang dengan berbisnis. Padahal kedua kegiatam ini memiliki maksud dan makna yang berbeda, yang jika tidak dipahami dapat membuat aktivitas berbisnis menjadi kurang berkembang.
“Semua bisnis itu dimulai dari dagang, dan enggak hina mulai dari dagang, tapi ternyata ada perbedaannya. Perbedaan utama dari berdagang dan berbisnis adalah laporan keuangan. Dalam hal dagang, pelaku usaha tak memiliki laporan laba-rugi yang jelas, atau biasanya hanya sekadar memiliki catatan keluar-masuk uang tanpa memperhitungkan secara rinci,” ujar Lead Financial Trainer QM Financial, Ligwina Hananto dalam diskusi virtual Modalku, Kamis (28/10).
Dirinya mencontohkan jika orang berdagang dengan mengambil barang yang harganya Rp 10.000 lalu dij ual kembali menjadi Rp 30.000, berarti dia untung Rp 20.000. Lalu keuntungannya itu misal langsung dipakai untuk jajan sama anak, dan selesai sampai disitu.
“Tapi kalau bisnis itu beda, misal ambil barang Rp 10.000 dijual Rp 30.000, maka yang Rp 20.000 itu belum jadi profit (keuntungan), tapi baru jadi margin (selisih). Sebab setelah itu ada biaya-biaya lain yang perlu dikurangi, barulah menjadi laba atau rugi,” jelas Ligwina.
Menurutnya, biaya-biaya lain yang perlu juga diperhitungkan, diantaranya seperti biaya marketing, biaya membayar gaji karyawan, hingga biaya menyewa tempat. Setelah turut memperhitungkan biaya tersebut, maka barulah diketahui penjualan itu menghasilkan laba atau malah rugi.
Oleh sebab itu, penting untuk para pelaku UMKM memiliki laporan keuangan yang baik dan benar, sehingga bisa mengetahui laba atau rugi dari bisnis yang dijalani.
“Ini perbedaannya antara dagang dan bisnis. Apakah salah mau dagang saja? Enggak. Tapi kita perlu menentukan dulu, sebagai pemilik usaha, mau jadi pedagang saja atau mau berevolusi jadi pemilik bisnis,” ungkapnya.
Ligwina menambahkan, dirinya banyak belajar salah satunya tentang mengerjakan bisnis dengan nilai kecil maupun besar sama-sama menghasilkan rasa capek yang sama. Untuk itu, ia menilai, jangan terus bertahan dengan usaha kecil, namun dorong hingga menjadi bisnis besar.
Langkah untuk bisa berevolusi dari dagang ke bisnis, kata Ligwina, bisa dilakukan dengan memiliki pemikiran yang tepat sebagai pemimpin atau chief executive officer (CEO), bukan sebagai chief everything officer.
“Salah satu yang menjadi kesalahan bagi orang-orang berbisnis adalah mengerjakan seluruhnya sendirian. Mulai dari produksi, pengemasan, pemasaran, bahkan hingga pencatatan keuangan,” katanya.
Hal itu tentu akan sangat melelahkan dan merepotkan. Oleh karena itu, bila hasil dari dagang sudah mencukupi menambah pekerja, maka tambahlah setidaknya mulai dari satu pekerja sehingga bisa membagi beban pekerjaan. Dengan demikian, secara perlahan seiring dengan semakin berkembangnya usaha, bisa menambah beberapa pekerja lainnya untuk mengurusi setiap bidang, mulai dari produksi, pemasaran, hingga ekspansi bisnis.
“Misalkan jual donat, kalau dia mau bisnis, maka dia sudah pikirkan produksinya seperti apa, bahannya bagaimana, nanti resepnya apa. Tapi nanti goreng, packaging, cari pembeli, pengiriman, sampai kalau ada komplain, sendiri yang urus. Ini sering jadi masalah,” paparnya.
Sering kali pemilik bisnis lupa kalau ada 3 level yang harus dipenuhi dalam berbisnis yaitu operasional, manajerial, dan strategis. Sehingga penting memiliki pekerja di bagian produksi, di bagian pengemasan dan pemasaran, juga yang memikirkan ekspansi bisnis kedepannya.
“Jadi untuk berevolusi dari dagang ke bisnis, perlu mulai memikirkan operasional bisnisnya, manajemen bisnis, hingga strategis bisnis ke depannya. Itu semua sangat dipengaruhi dengan mindset si pemilik bisnis,” pungkasnya .








