EconomicReview – Asian Development Bank (ADB) merilis kajian bertajuk ‘Reaping the Benefits of Industry 4.0 Through Skills Development in Indonesia’. Kajian ini merupakan bagian dari riset di empat negara yaitu Filipina, Indonesia, Kamboja dan Vietnam.
Di Indonesia, kajian ini berfokus pada industri makanan dan minuman (F&B) serta industri otomotif. Kedua sektor ini sangat penting bagi pertumbuhan, lapangan kerja, daya saing internasional, dan fourth industrial revolution atau 4IR.
Ada sejumlah temuan dari studi ADB ini. Satu diantaranya adalah rekomendasi ADB agar Indonesia membuat peta transformasi industri yang memperlihatkan proses transisi ke revolusi industri ke-4 (4IR). Proses transisi ini melalui investasi yang memadai dalam pengembangan keterampilan, agar dapat mengakomodasi kebutuhan pekerjaan baru dan pekerjaan yang akan berubah.
Kajian ini juga mendapati bahwa teknologi 4IR akan menyebabkan hilangnya beberapa jenis pekerjaan dalam industri F&B dan otomotif. Namun, kondisi ini akan diimbangi oleh permintaan tenaga kerja dengan keterampilan baru yang lebih besar, sehingga menghasilkan peningkatan lapangan kerja masing-masing sebesar 41% dan 30%.
Karena itu investasi dalam pengembangan keterampilan akan menjadi sangat penting. Pada kedua industri tersebut, akan terjadi penurunan jumlah pekerjaan yang bersifat rutin dan memanfaatkan tenaga fisik. Hal ini merupakan konsekuensi dari penggunaan teknologi robotik dalam lini perakitan otomotif dan teknologi otomasi dalam produksi makanan dan minuman. Sebaliknya, akan terjadi peningkatan jumlah kebutuhan tenaga dengan keterampilan yang lebih tinggi terutama dalam melakukan evaluasi, penilaian, dan pengambilan keputusan.
Di sektor otomotif, studi ini merekomendasikan untuk memprioritaskan adopsi 4IR dan upaya pengembangan keterampilan bagi UMKM, mendukung alih pengetahuan 4IR dari perusahaan multinasional besar ke UMKM, serta menjalin koordinasi yang lebih kuat antara sekolah vokasi, Balai Latihan Kerja dan lembaga pelatihan swasta yang dipandu oleh perusahaan.
Studi ini mendorong Indonesia untuk mengembangkan program Pendidikan serta Pelatihan Teknis dan Kejuruan (Technical and Vocational Education and Training atau TVET) khusus 4IR, melanjutkan upaya dalam memperkuat keterkaitan antara TVET dan industri. Studi ini juga merekomendasikan program sertifikasi keterampilan secara fleksibel dan modular, yang dapat merekognisi keterampilan yang diperoleh dari luar jalur pendidikan formal.
Studi ini juga merekomendasikan untuk mengkaji kembali mekanisme penjaminan mutu terutama dalam hal mutu program ‘pelatihan para pelatih (training of trainers atau ToT)’, memperkuat kemitraan dengan industri, dan program sertifikasi fleksibel yang mencakup lebih dari sekadar pendidikan konvensional dan lembaga pelatihan.
“Proses 4IR dapat membawa transformasi bagi Indonesia dan menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan industri guna memastikan kecocokan yang lebih baik dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh industri, terutama di bidang makanan dan minuman,” kata Sameer Khatiwada, spesialis sektor sosial di ADB.
Studi ini juga mendapati bahwa perusahaan yang menggunakan teknologi 4IR lebih berpeluang untuk pulih lebih cepat pasca-COVID-19 dan lebih mampu bertahan di masa mendatang.
Temuan lainnya berkaitan dengan ketidakcocokan antara lembaga pelatihan dan pemberi kerja dalam kesiapan lulusannya untuk bekerja. Meskipun 96% dari lembaga pelatihan melaporkan bahwa lulusannya sudah disiapkan secara memadai untuk posisi pemula, hanya 28% dari penyedia kerja di bidang F&B dan 30% dari industri otomotif yang setuju akan hal ini. Selan itu, hanya 19% dari lembaga pelatihan yang melaporkan penggunaan platform online untuk pelatihan dan hanya 16% yang melaporkan penggunaan metoda baru seperti augmented reality dan virtual reality.
“Seiring penyebaran teknologi 4IR yang makin meluas, investasi besar pada keterampilan digital akan meningkatkan peluang para pemuda maupun kelompok senior untuk mengakses pekerjaan berkualitas, sekaligus menurunkan risiko kehilangan pekerjaan,” kata Shanti Jagannathan, spesialis utama sektor pendidikan di ADB. “Inilah saatnya memanfaatkan metode pendidikan keterampilan berbasis platform virtual dan perangkat seperti ponsel, serta mengembangkan lembaga pelatihan yang sigap dalam menawakan pelatihan dan kredensial yang dibutuhkan pasar.”








