Economic Review- Memasuki era digital kalangan industri di Indonesia, khususnya industri Kimia, Farmasi dan Tekstil terus didorong untuk meningkatkan peran digitalisasi dalam proses produksinya.
Dalam rilis yang diterima redaksi, Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian, Muhammad Khayam mengatakan, dalam upaya mendongkrak kinerja dan daya saing, pemerintah terus mendorong sektor industri kimia, farmasi dan tekstil (IKFT) di tanah air untuk bertransformasi ke arah digitalisasi.
Pihaknya akan mengarahkan sektor IKFT untuk segera mengadopsi
teknologi industri 4.0 tanpa mengurangi tenaga kerja. Artinya, penggunaan teknologi yang akan didorong adalah yang dapat memecahkan bottleneck dalam proses produksi.
“Sehingga bisa menghasilkan berbagai produk yang berkualitas dengan lebih efisien,” katanya dalam acara Business Forum Expo 2020 Dubai.
Khayam menyebutkan, beberapa perusahaan di sektor IKFT telah mengimplementasikan digitalisasi berupa internet of things, artificial intelligence, cloud technology, nano technology, blockchain technology, dan telemedicine. “Kemampuan sektor IKFT dalam implementasi industri 4.0 sudah lebih baik. Hal ini tercemin dari semakin banyaknya sektor IKFT yang berpartisipasi pada assessment program Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0),” ungkapnya.
Ditambahkannya, di tengah pandemi ini, Kemenperin juga sudah memasukkan industri farmasi dan industri alat kesehatan juga medapat prioritas pengembangan industri 4.0.
Pada tahun 2020, sektor IKFT memberikan sumbangsihnya sebesar 4,48% terhadap produk domestik bruto (PDB) ekonomi nasional.
Hal ini didorong oleh peran industri kimia, farmasi dan obat tradisional yang mampu tumbuh di tengah hadangan pandemi Covid-19 sebesar 9,39%.
Di samping itu, pada tahun 2020, ekspor sektor IKFT mencapai US$ 33,99 miliar atau sekitar Rp 485 triliun. Realisasi investasinya pada periode tersebut sebesar Rp 61,97 triliun, didominasi oleh industri kimia dan bahan kimia. Sektor tersebut juga menyerap tenaga kerja hingga 6,24 juta orang.








