EconomicReview – Meski pandemic Covid-19 masih belum berakhir, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk optimis bahwa bisnisnya akan tumbuh di tahun 2021. Bahkan, emiten kontraktor plat merah ini menargetkan laba bersih perseroan akan tembus Rp1 triliun di tahun 2021.
Target ini memang tak berlebihan dimana perusahaan fokus pada momentum belanja infrastruktur jumbo dari pemerintah. Perusahaan telah memprediksi akan memperoleh kontrak baru bisa naik hampir dua kali lipat menjadi Rp40,12 triliun sehingga target nilai order book menjadi Rp115,02 triliun pada tahun ini.
Perusahaan juga menargetkan penjualan non-joint operational senilai Rp26,24 triliun atau lebih tinggi 55,08 persen dibandingkan target penjualan tahun lalu senilai Rp16,92 triliun. Laba bersih pun ditargetkan bisa menembus Rp1,05 triliun pada 2021 atau meningkat empat kali lipat dibandingkan proyeksi laba tahun lalu senilai Rp208 miliar.
Kinerja Wijaya Karya (WIKA) yang berkesinambungan ini salah satunya tak lepas dari komitmen perusahaan menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang telah teruji dalam level yang tertinggi. Tak heran jika implementasinya telah menjadi budaya di semua tingkatan manajemen.

Komitmen inilah yang menempatkan WIKA meraih 1st The Best Indonesia GCG Award 2021 untuk kategori public company – building construction – SOE Listed company dengan skor 88,20 (Gold). Penghargaan tersebut diserahkan kepada perwakilan Wijaya Karya pada ajang GCG Zoominars & Indonesia GCG Award VI 2021 (IGCGA-VI-2021), Jumat (5/2).
Dengan diperolehnya penghargaan ini diharapkan kian memacu Wijaya Karya untuk terus meningkatkan prestasi dan kinerjanya untuk mendukung peningkatan pembangunan dan perekonomian nasional.
Indonesia GCG Award VI 2021 merupakan acara tahunan yang telah digelar untuk keenam kalinya sejak 2015. Penghargaan ini digelar oleh Economic Review bersama dengan Indonesia – Asia Institute, PPPI dan Ideku Group. Ajang ini merupakan penghargaan bagi perusahaan-perusahaan yang dinilai telah menerapkan prinsip GCG secara konsisten dan sangat baik sehingga mampu menghantarkan perusahaan untuk terus bertumbuh dan berkembang.
WIKA telah membuktikan hal tersebut. Perusahaan senantiasa mempertahankan komitmen terhadap efektivitas penerapan GCG. Komitmen ini terlihat dari efektivitas governance structure yang dimiliki dan governance process yang telah dilaksanakan. Kedua hal ini telah mendorong dicapainya Governance Outcome sesuai dengan harapan para pemangku kepentingan Perseroan.
Terkait pemahaman GCG, perusahaan telah menerapkannya secara menyeluruh mulai dari top level managemen hingga level pelaksanaan operasional. Komunikasi, monitoring, dan feedback dari stakeholder WIKA termasuk di dalamnya pelaksanaan SOP dalam setiap aktifitas WIKA.
Kebijakan mengenai GCG juga sudah ditampilkan di web perusahaan. Tujuannya agar tersosialisasi untuk semua karyawan dan agar semua elemen di WIKA mulai dari level bawah hingga top manajemen memiliki pemahaman yang sama mengenai GCG ini.
Tak hanya itu, perusahaan juga telah melakukan serangkaian terobosan terkait GCG ini. Mulai dari penerapan Whistleblowing System. Kemudian penerapan Matrix Subsidiary Governance yang mencakup empat fungsi yakni fungsi kepemimpinan, fungsi control, fungsi modal dan fungsi identitas.
Ada juga Sistem Pengadaan Barang dan Jasa yang telah terintegrasi. Sistem pengadaan barang dan jasa di WIKA sendiri ada empat, yakni E-Qualification, Centralized Procurement, E-Procurement dan E-Purchasing. Semua sistem ini dijalankan secara integrase sehingga bisa dipantau pelaksanaannya secara cermat.