EconomicReview – Mengawali tahun 2021, PT Adhi Karya (Persero) Tbk mencatatkan prestasi yang membanggakan. Kinerja yang diperoleh selama tahun 2020 tak lepas dari pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG) di perseroan secara baik, rigid dengan pemantauan yang cukup ketat.
Komitmen Adhi Karya yang melaksanakan prinsip-prinsip GCG cukup ketat ini diganjar dengan penghargaan The Big 4 Indonesia GCG Award-VI-2021 untuk kategori Public Company – Building Construction dengan skor 82,09 (Gold).
Penghargaan ini diserahkan kepada perwakilan Adhi Karya pada ajang GCG Zoominars & Indonesia GCG Award VI 2021 (IGCGA-VI-2021), Jumat (5/2). Dengan diperolehnya penghargaan ini diharapkan kian memacu Adhi Karya untuk terus meningkatkan prestasi dan kinerjanya dalam rangka mendukung peningkatan pembangunan dan perekonomian nasional.
Indonesia GCG Award VI 2021 merupakan acara tahunan yang telah digelar untuk keenam kalinya sejak 2015. Penghargaan ini digelar oleh Economic Review bersama dengan Indonesia – Asia Institute, PPPI dan Ideku Group. Ajang ini merupakan penghargaan bagi perusahaan-perusahaan yang dinilai telah menerapkan prinsip GCG secara konsisten dan sangat baik sehingga mampu menghantarkan perusahaan untuk terus bertumbuh dan berkembang.

Sebagai BUMN yang bergerak di bidang konstruksi, Adhi Karya melakukan program ekspansi strategis mengarah pada pengembangan program usahanya dari semua bisnis konstruksinya menjadi lima lini bisnis meliputi konstruksi, properti, energi, investasi, industri.
Dalam mengimplemetasikan GCG, perusahaan mengacu pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 21 Tahun 2015 tentang Penerapan Pedoman Tata Kelola Perusahaan Terbuka. Perusahaan menyadari pentingnya menerapkan Tata Kelola Perusahaan yang Baik secara efektif dan efisien untuk meningkatkan kinerja bisnis yang berkelanjutan, serta sebagai bentuk pertanggungjawaban Perseroan kepada para Pemangku Kepentingan. Implementasi GCG ini dapat memotivasi seluruh jajaran manajemen untuk meningkatkan kinerja sehingga kesuksesan keuangan dapat terwujud.
Adhi Karya menerapkan GCG selaras dengan dinamika bisnis konstruksi, melaksanakan kebijakan-kebijakan GCG yang terintegrasi dan dirancang untuk memastikan terlaksananya pengelolaan kepatuhan, manajemen risiko dan pengendalian internal. Berbagai upaya telah ditempuh guna melengkapi Perusahaan dengan pengetahuan dan kapabilitas yang diperlukan untuk melaksanakan tata kelola perusahaan yang sejalan dengan kinerja bisnisnya serta mampu mengantarkan Perusahaan mencapai kinerja jangka panjang yang berkesinambungan.
Dalam rangka penerapan GCG secara efektif, perusahaan telah memiliki perangkat GCG yang jelas, yaitu struktur GCG, peraturan dan prosedur internal, pedoman GCG, dan Board Manual yang mengatur hubungan antar Dewan Komisaris, antar Direktur, antara Dewan Komisaris dan Direksi; antara Direksi dengan Direksi/Dewan Komisaris anak perusahaan; antara anggota Komite-komite Dewan Komisaris dan Corporate Secretary.
Kepatuhan pada GCG juga tercermin pada Code of Conduct (Kode Etik) yang secara detil memberikan panduan dan pedoman tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seluruh jajaran manajemen dan karyawan. Kode Etik tersebut juga berperan dalam menciptakan budaya perusahaan berdasarkan prestasi dan pencapaian, yang tercakup dalam apa yang disebut sebagai inisiatif 3B yaitu Bekerja Cerdas, Berintegritas, dan Bersahaja.
ADHI meyakini bahwa penerapan GCG akan memperkuat kinerja bisnis secara berkelanjutan (Sustainability Development). Hal ini menjadi prioritas bagi perusahaan dalam upaya menjadi perusahaan konstruksi terkemuka di Asia Tenggara.
Setidaknya jika dilihat kinerja perusahaan jelang akhir tahun 2020 dimana ada sejumlah sentimen positif sehingga mendorong harga saham meningkat. Ada proyek pengecoran bentang panjang terakhir dari pembangunan proyek LRT Jabodebek. Perusahaan juga teken kontrak baru Tol Solo-Yogya dan Serang-Panimbang senilai Rp8,7 triliun. Selain itu, Pelabuhan Patimban hasil karya sinergi Adhi Karya dan BUMN konstruksi resmi beroperasi. Peningkatan anggaran pembangunan infrastruktur pada 2021 yang meningkat 47 persen year on year menjadi Rp414 triliun.
Perseroan juga memproyeksikan pendapatan bakal naik pada 2021. Target kontrak baru 2021 berkisar antara Rp 24 triliun-Rp 25 triliun dengan mempertimbangkan peluang pasar infrastruktur 2021 sehingga diharapkan pencapaian laba bersih pada 2021 akan tumbuh dibandingkan 2020 namun masih belum pulih sepenuhnya seperti 2019.








