Economic Review
  • HOME
  • EKONOMI & BISNIS
  • FINANSIAL
  • KEBIJAKAN
  • GAYA HIDUP
  • KORPORASI
  • OPINI
  • BERITA TERKINI
  • SOSIAL & BUDAYA
  • OTOMOTIF
  • EVENT
No Result
View All Result

Subscribe Newsletter

Economic Review
  • HOME
  • EKONOMI & BISNIS
  • FINANSIAL
  • KEBIJAKAN
  • GAYA HIDUP
  • KORPORASI
  • OPINI
  • BERITA TERKINI
  • SOSIAL & BUDAYA
  • OTOMOTIF
  • EVENT
No Result
View All Result
Economic Review
No Result
View All Result

Meski Fintech Tumbuh Pesat, Namun Ada Financial Gap hingga US$165 Miliar

by Yusniar
December 18, 2020
in BERITA TERKINI, FINANSIAL
133 4
0
Meski Fintech Tumbuh Pesat, Namun Ada Financial Gap hingga US$165 Miliar
Share on FacebookShare on Twitter

EconomicReview – Otoritas Jasa Keuangan mengungkapkan adanya kesenjangan finansial (financial gap) yang terjadi di Indonesia sebesar US$165 miliar. Ini terjadi karena belum tersentuh dukungan pembiayaan dari perbankan maupun lembaga keuangan lainnya. Besarnya nilai potensi financial gap itu mendorong pertumbuhan yang pesat untuk inovasi digital. Terbukti dengan makin banyaknya kehadiran startup financial technology (fintech) di negeri ini.

Hal itu diungkapkan Dino Milano Siregar, Direktur Grup Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam diskusi bertajuk “Strategi Finansial Services di Era Digital: Optimalisasi Inisiatif Omni-Channel untuk Growth dan Revenue Melalui Platform Digital KYC” yang diselenggarakan secara virtual oleh Telkomtelstra.

“Potensi di Indonesia memang luar biasa. Dengan peringkat 16 ekonomi terbesar secara global dengan jumlah sekitar 175 juta pengguna internet saat ini. Kemudian ada financial gap sebesar US$165 miliar yang perlu kita sentuh agar bisa masuk menjadi suatu benefit buat negara kita,” ujarnya.

Besarnya financial gap, menurut Dino, juga dapat terlihat dari banyaknya usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang belum tersentuh dukungan dari lembaga keuangan dan perbankan. “Ada 70% UMKM di negeri ini yang belum tersentuh lembaga keuangan, apalagi digital keuangan. Padahal kurangnya akses kredit dinilai menjadi salah satu kendala utama dalam pertumbuhan UMKM,” jelasnya.

Karena itu, lanjut dia, tidak heran kehadiran fintech berkembang sangat pesat. “Fintech bisa menjadi solusi untuk mengisi kesenjangan pembiayaan karena lebih hemat biaya dan saluran yang efisien untuk menjangkau jarak jauh komunitas yang tidak terlayani oleh lembaga keuangan tradisional,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi pertumbuhan yang pesat dari fintech, OJK menerapkan smart regulatory approach untuk inovasi fintech. Hal itu dilakukan sebagai jembatan terkait upaya OJK mengatur fintech. “Fintech kalau diatur secara ketat, dia akan sangat terbatas. Kalau tidak diatur maka dia akan berkembang secara liar. Kami mengatur secara pelan. Ada harapan seiring dengan bertumbuhnya itu maka keamanan bertransaksi dengan pengembangan pelayanannya juga bisa berkembang semakin baik,” jelasnya.

Agus F. Abdillah, Chief Customer Officer Telkomtelstra, menilai pertumbuhan pesat inovasi digital di sektor finansial memang dipengaruhi oleh revolusi industry 4.0. Transformasi digital membuat layanan pelanggan menjadi lebih baik, lebih cepat, dan lebih murah. “Menariknya, yang paling banyak mengadopsi teknologi digital ini adalah perbankan dan keuangan digital. Mengapa? Karena saat ini banyak sekali startup baru di bidang keuangan atau fintech telah masuk ke teknologi digital,” paparnya.

Agus mengutip survei PWC tahun 2018 terhadap 52 pimpinan perusahaan perbankan di Indonesia dimana 72% dari responden menyatakan bahwa startup fintech menjadi tantangan tersendiri bagi perbankan dan lembaga keuangan konvensional. “Dengan jumlah basis pelanggan yang besar, startup fintech bisa masuk sangat cepat dengan industri keuangan untuk transaksi pembayaran. Sebagai startup yang lahirnya dari teknologi digital, fintech bisa dengan sangat cepat memiliki kemampuan membangun super apps yang dilengkapi dengan data analytic, machine learning, dan teknologi lainnya,” paparnya.

Telkomtelstra saat ini bekerjasama dengan Oracle untuk penyediaan solusi digital e-KYC (know your costumer), seperti memverifikasi nasabah dalam pembukaan rekening secara online untuk salah satu pelanggannya di Bank Syariah. Bank Syariah tersebut saat ini telah berhasil melakukan 200 ribu pembukaan rekening melalui online sepanjang tahun 2020 yang tentunya sangat mendukung operasional dari layanan keuangan secara remote di masa pandemi.

Sementara itu, Dora Sunarli, Sales Director PT Oracle Indonesia, menjelaskan pertumbuhan pesat inovasi digital di sektor keuangan dan perbankan telah mendorong perkembangan inovasi E-KYC dari jenis tatap muka ke arah digital. Metode KYC tatap muka sebelumnya membutuhkan kehadiran secara fisik, proses verifikasi yang lebih lama dan biaya investasi yang lebih besar.

“Dengan bantuan teknologi digital, selain dapat mempercepat proses e-KYC, penyedia jasa keuangan dapat memanfaatkan jaringan internet yang sudah dapat diakses oleh 88% populasi di Indonesia untuk meraih jangkauan yang lebih luas lagi. Strategi digital apabila dapat diterapkan dengan baik dapat membantu industri keuangan dalam mendongkrak persentase penetrasi jumlah pelanggan untuk menggunakan layanan perbankan,” ujarnya.

Previous Post

Belanja di INFORMA kini Lebih Lifestyle, Modern dan Nyaman

Next Post

IPC: Progres Proyek Maritime Tower Capai 50,67%

Related Posts

Zebra Technologies Menyoroti Tren Industri 2026 untuk Era Operasional Cerdas
TEKNOLOGI

Zebra Technologies Menyoroti Tren Industri 2026 untuk Era Operasional Cerdas

December 24, 2025
BP Tapera Gandeng 43 Bank untuk Penyaluran FLPP 2026
EKONOMI & BISNIS

BP Tapera Gandeng 43 Bank untuk Penyaluran FLPP 2026

December 24, 2025
PKP Apresiasi Kinerja BP Tapera dalam Penyaluran FLPP
EKONOMI & BISNIS

PKP Apresiasi Kinerja BP Tapera dalam Penyaluran FLPP

December 21, 2025
Akad Massal 50.030 KPR Sejahtera FLPP & Serah Terima Kunci Rumah  Tahun 2025
EKONOMI & BISNIS

Akad Massal 50.030 KPR Sejahtera FLPP & Serah Terima Kunci Rumah  Tahun 2025

December 20, 2025
CES 2026, Samsung Luncurkan Lini AI-Connected Living untuk Hunian Masa Depan
GAYA HIDUP

CES 2026, Samsung Luncurkan Lini AI-Connected Living untuk Hunian Masa Depan

December 20, 2025
Registrasi SIM Card Berbasis Biometrik Face Recognition Mulai 1 Januari 2026, ATSI: Operator Seluler Sudah Siap
Uncategorized

Registrasi SIM Card Berbasis Biometrik Face Recognition Mulai 1 Januari 2026, ATSI: Operator Seluler Sudah Siap

December 17, 2025
Next Post
IPC: Progres Proyek Maritime Tower Capai 50,67%

IPC: Progres Proyek Maritime Tower Capai 50,67%

Recent Posts

  • Zebra Technologies Menyoroti Tren Industri 2026 untuk Era Operasional Cerdas
  • BP Tapera Gandeng 43 Bank untuk Penyaluran FLPP 2026
  • PKP Apresiasi Kinerja BP Tapera dalam Penyaluran FLPP
  • Akad Massal 50.030 KPR Sejahtera FLPP & Serah Terima Kunci Rumah  Tahun 2025
  • CES 2026, Samsung Luncurkan Lini AI-Connected Living untuk Hunian Masa Depan
  • Pemerintah Hapus Larangan Masuk WNA dari 14 Negara
  • Maybank Sekuritas Luncurkan 8 Seri Waran Terstruktur Bidik Rp60 Triliun
  • RedDoorz Berikan Penghargaan Ke tiket.com Sebagai Mitra Online
  • Allianz Indonesia Hadirkan I’m A LifeChanger, Dorong Milenial Kembangkan Entrepreneurship 

TENTANG KAMI

REDAKSI

BERIKLAN

KONTAK KAMI

© 2020 Economic Review - Powered by Webcorner.id

No Result
View All Result
  • HOME
  • EKONOMI & BISNIS
  • FINANSIAL
  • KEBIJAKAN
  • GAYA HIDUP
  • KORPORASI
  • OPINI
  • BERITA TERKINI
  • SOSIAL & BUDAYA
  • OTOMOTIF
  • EVENT

© 2020 Economic Business Review - Powered by Webcorner.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
sponsored