Economic Review- Maraknya penggunaan Bitcoin sebagai salah satu bentuk investasi mulai dikritisi berbagai kalangan. Tidak sedikit yang mempertanyakan untug dan rugi dari berivenstasi Bitcoin.
Menurut Pengamat Ekonomi dari Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira, Bitcoin lebih cocok untuk investor dengan profil risiko tinggi. Selain itu mata uang digital ini hanya dikoleksi sebesar 15-25 persen dari portofolio investasi.
“Saya tidak merekomendasikan Bitcoin untuk investor yang appetite risikonya rendah. Jadi kembali ke profil risiko tiap investor dan berapa porsi dana untuk investasi yang dimiliki,” katanya belum lama ini.
Ditambahkannya, ia tidak menyarankan investor berspekulasi dengan menempatkan seluruh dananya untuk aset kripto. Karena Bitcoin ada yang jangka panjang dan biasanya yang punya time horizon panjang, sehingga lebih pay off dibanding FOMO (fear of missing out) jangka pendek.
Mengenai tren kenaikan harga Bitcoin, Bhima menyebut setidaknya ada empat faktor pendorong. Pertama, kekhawatiran inflasi yang tinggi dalam waktu dekat karena krisis energi dan naiknya konsumsi secara global membuat investor mencari aset selain saham.
Menurut Bhima, dalam kondisi tersebut, Bitcoin menjadi pilihan yang lebih menarik ketimbang saham. “Kami melihat inflasi akan jadi game changer dalam kurun waktu 1-2 tahun ke depan, jadi bullish harga Bitcoin mungkin bertahan cukup lama, apalagi kalau inflasinya lebih tinggi dari konsensus pasar,” ujarnya.
Faktor kedua, kata dia, adalah regulator pasar keuangan dan bank sentral di AS diperkirakan tidak akan melakukan pengetatan regulasi kripto seperti di Cina. Ketiga, masuknya investor kakap sekelas George Soros ke pasar kripto menjadikan nilai Bitcoin melonjak.
“Keempat, kelahiran exchange trade fund yang memiliki underlying aset kripto pertama kali turut meramaikan sentimen positif Bitcoin,” pungkas Bhima.








