Economic Review– Pabrik obat asal Amerika Serikat, Merck, awal Oktober lalu mengeluarkan pernyataan mengenai hasil analisis uji fase III terhadap obat Corona Molnupiravir yang menunjukkan hasil cukup baik. Tidak mengeherankan jika saat ini banyak Negara yang mulai mengincar calon kuat obat Corona, Molnupiravir. Bahkan direncanakan obat Molnupiravir akan segera hadir di Indonesia.
Molnupiravir diklaim mampu mencegah perburukkan gejala yang menimbulkan risiko perawatan rumah sakit hingga kematian mencapai 50 persen.
“Obat ini walau belum mendapatkan persetujuan (dari FDA-BPOM Amerika Serikat), namun dinilai punya potensi yang cukup besar sebagai obat COVID-19. Sehingga kami optimis apabila di akhir tahun Molnupiravir sudah bisa diperoleh Indonesia, maka Indonesia akan siap menghadapi prediksi lonjakan selanjutnya. Sehingga kita punya cadangan cukup bila ada potensi gelombang berikutnya,” ujar Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan pers virtual di Youtube Sekretariat Presiden, Senin (25/10).
Dikatakan Menkes, pemerintah Indonesi juga berencana untuk dapat membangun pabrik Molnupiravir. Pihaknya juga sudah jajaki untuk bisa bangun pabrik obatnya di Indonesia termasuk bahan baku obatnya.
Masih menurut Menkes, pemerintah telah melakukan perjanjian dengan pihak Merck selaku produsen dari obat tersebut. Dirinya bersama Menkomarimves, Luhut Binsar Panjaitan, telah berkunjung ke Merck di AS. “Serta sudah melakukan pembicaraan sampai ke tahap finalisasi agreement, agar Indonesia bisa mengadakan obat Molnupiravir yang diusahakan pada akhir tahun ini,” jelasnya.








