EconomicReview – Prof. Anna Mariana dikenal sebagai sosok yang sangat concern membina, mengembangkan, melestarikan, dan mengangkat pengrajin tenun dan songket tradisional nusantara menjadi kebanggaan Indonesia hingga mancanegara.
Separuh lebih dari usianya, sekitar 36 tahun, Anna mendedikasikan dirinya dalam melestarikan wastra tradisional tenun dan songket yang ada di seluruh kepulauan Indonesia. Ia terus melakukan edukasi dan memperkenalkan tenun dan songket tradisional bahkan kepada generasi muda dan masyarakat luas. Tujuannya agar tenun dan songket yang merupakan warisan budaya tradisional leluhur bisa tetap terjaga. Produk-produknya bisa berkembang lebih baik, inovatif dan yang terpenting tidak punah.
Salah satu kiprahnya yang terbilang moncer ketika dia sebagai Ketua Umum Komunitas Tekstil Tradisional Indonesia dan Komunitas Kadin Indonesia Internasional Fashion Art & UMKM, mampu mendorong pemerintah, dalam hal ini Presiden Jo Widodo bersama jajaran kementeriannya menetapkan Hari Tenun Nasional yang diperingati setiap 7 September. Usaha dalam menggagas peringatan Hari Tenun Nasional terus dilakukan sejak 24 Februari 2019, dengan deklarasi bahwa HTN ditetapkan pada 7 September.
Pentingnya penetapan HTN (Hari Tenun Nasional) merupakan payung hukum dan pengakuan, serta perlindungan secara resmi oleh negara, sebagai asset warisan budaya tak benda milik bangsa indonesia.
Penetapan tanggal tersebut berdasarkan hasil kajian secara akademik, hasil perumusan naskah bersama seluruh kementerian serta ahli hukum dan berbagai ahli budaya dari berbagai universitas terbaik di Indonesia. Bahwa secara fakta sekolah tenun pertama kali didirikan pada 7 September 1929 oleh dokter Soetomo di Surabaya, Jawa Timur. Dengan demikian dasar kajian tersebut dapat menjadi rujukan naskah Keputusan Presiden (Kepres).

“Penetapan Hari Tenun Nasional ini untuk mengajak dan mengingatkan masyarakat agar semakin cinta produk lokal tenun dan songket tradisional Indonesian. Karya anak negeri yang menjadi ciri khas, identitas, karakter serta jati diri bangsa, di mata dunia yang telah mendapat pengakuan dari dunia Internasional yaitu UNESCO,” ujarnya.
Selain pelopor Hari Tenun Nasional, Anna juga dikenal sebagai sosok perempuan Indonesia pendiri Komunitas Tekstil Tradisional Indonesia (KTTI ) bersama Yayasan Cinta Budaya Kain Nusantara (CBKN) serta Asosiasi Perajin Tenun Songket Indonesia (ATSI). Ia mendedikasikan diri dan berjuang untuk menaungi para perajin tenun songket binaannya yang ada di 34 provinsi di Indonesia.
“Misi gerakan ini adalah mendukung program pemerintah dalam mengurangi pengangguran melalui peningkatan produksi industri ekonomi kreatif, serta pemberdayaan dan pembinaan perajin tenun tradisional Indonesia,” kata Anna.
Dedikasi Prof. Anna yang luar biasa ini semakin komplet dengan diraihnya penghargaan Anugerah Perempuan Indonesia tahun 2023 (API IX 2023). Penghargaan ini digagas oleh Perkumpulan Perempuan Pemimpin Indonesia, Duta Global Indonesia, Ideku Group Indonesia, Indonesia Leaders Foundation, Indonesia Asia Institute bersama EconomicReview.
“Alhamdulillah saya dipercaya memperoleh penghargaan bergengsi API 23 ini. Terima kasih kepada semua pihak yang membantu saya memperoleh penghargaan ini,” pungkasnya.








