EconomicReview – Ada rasa optimistis di masyarakat Indonesia setelah melalui gelombang pertama Covid-19. Rasa optimistis ini berkaitan dengan perekonomian Indonesia yang akan pulih di tahun ini serta pandemi Covid-19 juga akan berakhir pada tahun ini.
Setidaknya, rasa optimistis ini tercermin dari hasil survei yang dilakukan oleh Inventure-Alvara. Survei yang dilakukan pada Juni 2021 ini melibatkan 532 responden yang didominasi generasi milenial di 7 kota besar di Indonesia. Hasilnya, sebanyak 59,5% responden yakin bahwa ekonomi Indonesia akan pulih pada 2021 serta sebanyak 51,5% responden yakin pandemi bakal berakhir pada 2021.
Survei ini merupakan survei kedua dimana Inventure-Alvara pernah melakukan survei pada September 2020. Pada survei mengenai kepercayaan konsumen Indonesia itu, para responden diminta pendapat tentang kapan pandemi bakal berlalu. Menariknya, bila dibandingkan hasilnya, terlihat bahwa di kedua survei tersebut konsumen Indonesia sangat optimis dengan prospek pemulihan ekonomi.
“Kami melihat konsumen lebih realistik dalam melihat keadaan ketika dilakukan survei kedua pada Juni 2021. Kondisi ini wajar mengingat mereka semakin ‘berpengalaman’ dalam menjalani krisis pandemi,” tutur Yuswohady, Managing Partner Inventure saat memaparkan hasil survei secara virtual pada Senin (26/7/2021).
Di sisi lain, Yuswohady menilai program vaksinasi yang telah dilakukan sejak Maret hingga Mei 2021 oleh pemerintah memberi sentimen optimisme. Dengan kondisi itu, rasa ketakutan tidak ada, maka masyarakat akan berbelanja.
“Ketika barang perusahaan laku, maka pegawai mendapat gaji utuh. Ketika pegawai mendapat gaji, maka akan ada belanja lagi. Karena ada belanja, pabrik kembali beroperasi. Gaji bagus, maka belanja bagus dan terus berputar,” kata Yuswohady.
Begitu pula sebaliknya, kata Yuswohady, apabila ada rasa kekhawatiran atau takut dan tidak optimistis kondisi ekonomi karena krisis kesehatan, maka konsumen tidak berbelanja. Dengan demikian, pabrik dan karyawannya akan menganggur. Kondisi begini dinamai sebagai krisis berupa lingkaran setan.
Tak hanya itu, survei juga ingin mengetahui kondisi keuangan responden selama pandemi. Ada tiga hal yakni apakah membaik, sama saja, atau memburuk. Kondisi keuangan itu mengacu kepada empat pilar keuangan keluarga yaitu: pendapatan, pengeluaran, tabungan, dan investasi.
Survei memperlihatkan bahwa sebanyak 50,2% responden merasa mengalami penurunan. Sedangkan dari sisi pengeluaran, 49,1% responden merasakan sama saja. Dari sisi tabungan, 65,0% responden merasa mengalami penurunan. Sementara dari sisi investasi 52,1% responden merasakan penurunan.
Hal lainnya yang terungkap dari survei ini berkaitan dengan semakin maraknya e-commerce di Indonesia dengan bermunculan pemain baru di industri ini dan berkembangnya layanan yang muncul sehingga mendorong meningkatnya persaingan di bisnis kurir dan logistik.
Hasil survei memaparkan, sebanyak 77,3% responden setuju, kurir yang cepat dan tepat lebih dipilih dibandingkan kurir yang hanya memberikan harga murah. Sementara di sisi lain, 60,9% responden menganggap brand jasa kurir tidak penting karena menurut mereka layanan yang diberikan umumnya sama saja.
Yuswohady menegaskan bahwa para pelaku industri bisa menjadikan hasil temuan survei ini sebagai bahan pertimbangan sebelum mengambil keputusan untuk bisnisnya. “Yang terpenting mereka mampu beradaptasi di tengah situasi yang terus berubah. Pasalnya, kemampuan adaptasi ini merupakan aset yang paling berharga bagi suatu perusahaan di tengah situasi pandemi,” pungkasnya.








