EconomicReview-Berbagai dampak dari pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia hingga saat ini masih dirasakan oleh UMKM di Indonesia sebagai pelaku bisnis. Namun, pandemi ini secara tidak langsung memberikan pembelajaran tersendiri bagi mereka. UMKM harus terus berusaha melakukan berbagai strategi agar usaha yang dijalankan tetep bertahan dan eksis di tengah pandemi tersebut.
Hal itulah yang dirasakan oleh kedua UMKM Pande Besi di Klaten binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Mereka adalah Supriyanto dari UD Arum Sari dan Sutarman dari UD Rejeki. Dalam kegiatan Jelajah Virtual UMKM yang diselenggarakan YDBA, keduanya berbagi cerita mengenai kondisi bisnisnya di masing-masing di tengah pandemi saat ini.
Supriyanto berbagi cerita bagaimana UD Arum Sari memanfaatkan peluang bisnis di masa pandemi. Terkait program lokalisasi cangkul merah putih, kolaborasi YDBA bersama Kementerian Koperasi dan UKM RI (Kemenkop RI) dan Kementerian Perindustrian, saat ini Kemenkop RI diketahui sedang memfasilitasi UMKM Pande Besi binaan YDBA di Klaten untuk dapat memperluas pasarnya melalui Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan mendapat pendanaan untuk Kopinkra 18 (Koperasi Industri dan Kerajinan Derap Laju Pande Besi dan Las) melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Hal yang sama juga diceritakan oleh Sutarman mengenai produk inovasi UD Rejeki di masa pandemi yang diminati di pasar online.

Hadir dalam Jelajah Virtual UMKM, yaitu Ketua Pengurus YDBA, Sigit P. Kumala dan Sekretaris Pengurus YDBA, Ida R. M. Sigalinging. Dalam sambutannya, Ida berharap kegiatan sharing dari Supriyanto dan Sutarman ini dapat menginspirasi UMKM lain untuk terus berinovasi dan menyiapkan strategi dalam bisnisnya agar tetap eksis dan bertahan.
UD Arum Sari adalah salah satu UMKM Pande Besi di Klaten, Jawa Tengah yang memproduksi alat pertanian, seperti cangkul, linggis, ganco dan lainnya. Usaha yang dipimpin oleh Supriyanto ini didirikan pada 1989. Nama Arum Sari sendiri diambil dari nama anak Supriyanto “Sari”. Sedangkan harum adalah harapan Supriyanto terhadap usahanya. Supri sapaan akrabnya berharap usahanya dapat harum dengan terus memproduksi produk yang berbeda dan berkualitas. Saat ini pasar produk UD Arum Sari berada di wilayah Jawa Tengah, seperti Sragen, Klaten dan Pekalongan.
Gigih dan selalu ingin maju adalah sosok dari Supriyanto. Pria asal Jawa Tengah ini aktif dalam berkomunitas dan selalu komitmen dalam meningkatkan kompetensinya. Supriyanto adalah salah satu anggota aktif dari Koperasi Industri dan Kerajinan Derap Laju Pande Besi dan Las (Kopinkra 18). Supriyanto juga merupakan UMKM pande besi binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) yang selalu aktif mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan YDBA.

Adapun beberapa kegiatan YDBA yang telah diikuti, antara lain Pelatihan Basic Mentality, Pelatihan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin), Pelatihan Pengetahuan Material & Teknik Tempa, Pelatihan Gambar Teknik, Pelatihan Design Proses, Pelatihan Pengukuran, Pelatihan DinamikaKelompok, Pelatihan Cost Calculation & Pembukuan Sederhana dan program lainnya yang mendukung peningkatan kompetensi Supriyanto.
Berkat kegigihan dan komitmennya dalam menghasilkan produk sesuasi standar quality, cost & delivery yang dipelajarinnya dalam berbagai program di atas, Supriyanto dipercaya menjadi UMKM Pande Besi yang bertanggungjawab dalam audit sertifikasi SNI Cangkul Merah Putih.
Program cangkul merah putih adalah program lokalisasi cangkul kolaborasi YDBA bersama Kementerian Koperasi dan UKM RI serta Kementerian Perindustrian dengan merek Cangkul Merah Putih sebagai salah satu solusi untuk menurunkan nilai impor cangkul yang terjadi di Indonesia. YDBA sendiri mendorong UMKM Pande Besi binaannya di Klaten yang tergabung dalam Kopinkra 18 untuk mempoduksi cangkul merah putih tersebut, salah satunya adalah UD Arum Sari.
“Di tengah pandemi yang tentu berdampak bagi UMKM Indonesia, saya berstrategi dalam menyiasati usaha agar terus bertahan dan eksis. Selain terlibat untuk lokalisasi cangkul di masa pandemi, kami juga memanfaatkan peluang dari kebutuhan bahan baku material yang dibutuhkan berbagai pihak. Saat ini kami memasok bahan baku tersebut ke daerah Wonosobo. Tidak hanya itu, kami juga membuat produk linggis/ dodos sebagai inovasi lainnya,” terang Supriyanto.
Sutarman, menghadirkan UD Rejeki sejak tahun 1996, bersamaan dengan dirinya menekuni usaha di bidang pande besi. Beberapa produk yang telah dihasilkannya, antara lain catut bonsai, poros roda pagar, hingga alat-alat pertanian, seperti pacul dan sekop.
Tak dapat dipungkiri diakui Sutarman, situasi pandemi yang melanda Indonesia menjadi sebuah tantangan besar bagi UMKM, termasuk dirinya. Pandemi turut berdampak pada penurunan omset usahanya. Namun, bersama Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) di Klaten yang didirikan YDBA, Sutarman mencoba mempelajari kebutuhan pelanggan di masa sulit tersebut.
“Sesuai dengan ilmu mentalitas dasar yang telah saya dipelajarinya Bersama YDBA, fokus pada pelanggan adalah hal penting yang harus dijalankan seorang pebisnis di situasi apapun, terlebih di situasi sulit ini. Mempelajari kebutuhan pelanggan baik bertanya secara langsung ke beberapa jaringan maupun mempelajari pasar online, mendorong Saya untuk terus berinovasi menciptakan produk baru di masa itu,” kenang Sutarman.
Ia pun melanjutkan, tepatnya di Bulan Mei 2020, dirinya bersama 4 UMKM pande besi lainnya menciptkan produk alat tanam yang dibutuhkan mayarakat, terutama kalangan anak-anak. “Kita tahu, sejak Perbatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ditetapkan, banyak masyarakat termasuk anak-anak yang beraktivitas di rumah, hingga mereka memiliki aktivitas baru, salah satunya berkebun, dan alat ini merupakan inovasi untuk memenuhi kebutuhan dalam berkebun. Inovasi yang dibuat dengan mengedepankan quality, control, circle (QCD) ini semula dibuat kecil, tajam dan tidak berwarna, dalam pemasarannya dinamakan paket PAKBUDI yang memiliki kepanjangan Paket Berkebun di Rumah,” paparnya lebih lanjut.
Selanjutnya, inovasi dikembangkan menjadi PAKBETA, yaitu Paket Bermain dan Bertanam dengan produk yang aman bagi anak, warna-warni dan dipadukan dengan pot yang menarik. Kabar gembira bagi para pande besi, karena inovasi tersebut diterima dengan baik oleh pasar online maupun offline. Bahkan, salah satu merchant di marketplace Indonesia memesan produk ini hingga ratusan pcs.
YDBA sebagai yayasan yang fokus pada pengembangan UMKM pun terus mendorong UMKM untuk selalu melakukan improvement agar UMKM dapat bertahan dan adaptive dalam menghadapi berbagai kondisi, termasuk resesi ekonomi yang sudah di depan mata. Tentu resesi tersebut akan berpengaruh pada UMKM Indonesia, namun kita semua harus optimis bahwa kreativitas dan mental pebisnis yang kuat yang dimiliki UMKM Indonesia dapat mengalahkan dan melewati kondisi sulit tersebut dengan hebat.








